Breaking News:

Bisnis dan Ekonomi

Bagaimana Peluang Bisnis Mobil Bekas, Jika Pemerintah Merealisasikan Pajak Mobil Baru Nol Persen?

Berbagai pandangan tentang peluang bisnis mobil bekas mencuat setelah pemerintah mewacanakan relaksasi pajak mobil baru.

Editor: Rival Almanaf
Otomania
Ilustrasi Mobil Baru(Stanly/Otomania) 

TRIBUN-PANTURA.COM, JAKARTA - Berbagai pandangan tentang peluang bisnis mobil bekas mencuat setelah pemerintah mewacanakan relaksasi pajak mobil baru.

Meski belum ada kepastian, tapi wacana relaksasi pajak nol persen untuk mobil baru yang diusulkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), diprediksi bakal menjadi ancaman untuk kelangsungan bisnis mobil bekas.

Pengamat Otomotif Bebin Djuana mengatakan, bila sampai terwujud, maka pasar mobil bekas kemungkinan besar akan "babak belur".

Suhu Capai 35 Derajat Celcius, Berikut Prakiraan Cuaca Kota Semarang Sabtu 26 September 2020

7 Pemuda Mabuk Perkosa Dua Gadis 14 Tahun di Tengah Perkebunan, Korban Jalan Kaki 10 KM Cari Bantuan

Jadwal Siaran Langsung Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol dan Jerman, Live di Net TV dan RCTI

Muncul Klaster Covid di Pondok Pesantren Banyumas dan Kebumen, Ganjar Minta Ponpes Ditutup

Hal tersebut diakibatkan calon konsumen beralih lebih memilih meminang mobil baru dengan harga murah serta kelebihan lainnya.

"Contoh saja, ketika kendaraan baru diberikan diskon oleh agen pemegang merek (APM), atau seperti sedang ada pemeran otomotif, pasar mobil bekas itu sudah goyang, apalagi dengan wacana ini yang katanya pajak mobil nol persen semua," ucap Bebin seperti dikutip dari Kompas.com, Jumat (25/9/2020).

Menurut Bebin, bila sampai kejadian atau pemerintah benar-benar memutuskan relaksasi sesuai usulan, maka dikhawatirkan bisnis mobil bekas akan merana.

Karena biar bagaimana pun, pada sektor tersebut ada perputaran uangnya.

Bila ternyata tidak sampai kejadian, atau skema stimulusnya berbeda, maka pasar mobil bekas cenderung aman.

Bahkan Bebin mengatakan di pasar mobil bekas, bila diperhatikan yang meningkat itu tidak untuk jenis mobil kelas bawah, melainkan menengah ke atas.

Hal tersebut lantaran memang daya beli untuk segmen mobil di kalangan menengah ke atas masih ada. Tidak seperti di kelas-kelas menengah ke bawah.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved