Breaking News:

Berita Blora

75 Desa di Blora Alami Krisis Air Bersih, BPBD: Diprediksi akan Ada 170 Desa Dilanda Kekeringan

75 Desa di Blora Alami Krisis Air Bersih, BPBD: Diprediksi akan Ada 170 Desa Dilanda Kekeringan

Istimewa
BPBD Kabupaten Blora droping air bersih di sejumlah desa yang alami krisis air bersih. 

TRIBUNPANTURA.COM, BLORA - Kabupaten Blora dilanda kekeringan dan krisis air bersih. Sampai saat ini tercatat ada 75 desa yang sudah didroping air bersih oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora.

Kepala Pelaksana BPBD Blora, Hadi Praseno mengatakan, pihaknya telah melakukan droping sebanyak 750 tangki masing-masing tangki kapasitas 5.000 liter di 75 desa yang tersebar di tiga belas kecamatan.

"Yang belum mengajukan bantuan air bersih atau tidak terdampak kekeringan di Kecamatan Japah, Kradenan, dan Todanan," kata Hadi kepada Tribunpantura.com, Sabtu (17/10/2020).

Baca juga: Konsumsi Narkoba di Jateng Meningkat selama Masa Pandemi, BNN: Banyak Orang Stres

Baca juga: Resep Soto Tauto Kuliner Khas Pekalongan, Rasakan Sensasi Kuah Pedas Manisnya

Baca juga: Rekap Transfer Liga Inggris Jilid 2: Liverpool Lepas 4 Pemain, Tottenham Rekrut Teman Bale

Baca juga: Avanza Seruduk 3 Beton Pembatas Jalan di Kota Tegal hingga Roboh, Polisi: Sopirnya Kami Buru

Jika sesuai dengan tanggap bencana musim kemarau, diprediksi ada 170 desa di 14 kecamatan yang rawan terjadi krisis air bersih.

Namun karena saat ini kemarau basah, kata Hadi, jadi tingkat krisis air bersih tidak separah dengan yang telah diprediksi.

Hadi mengatakan, pada tahun ini pihaknya mengalokasikan anggaran sekitar Rp400 juta untuk droping air bersih.

Anggaran sebanyak itu setara dengan 1.600 tangki untuk tanggap bencana krisis air bersih.

Sementara masa tanggap bencana krisis air bersih akan berlangsung sampai pada akhir November 2020.

"Kalau dari data yang kaki terima dari BMKG, khusus Blora memasuki musim hujan awal November 2020," ucap dia.

Sementara untuk menghadapi musim hujan, pihaknya baru akan menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah dinas demi memetakan daerah rawan serta persiapan mitigasinya.

Hadi mengatakan, pada musim hujan bencana yang biasa terjadi di Blora selain longsor adalah banjir.

"Kalau banjir biasanya di Blora banjir genangan. Tapi belum hujan ini nanti, soalnya curah hujannya tinggi apakah ada banjir bandang atau tidak."

"Yang pasti kami harus tetap siaga," kata dia. (*)

Baca juga: Rp400 Juta Hilang dari Rekening setelah 7 Menit Ganti Nomor Hp, Dokter Gigi di Surabaya Gugat Bank

Baca juga: Ahli Rakit Bom Pipa High Explosive, Karyawan PLTA di Cianjur Terancam Hukuman Mati

Baca juga: Salahgunakan Bantuan Beras Covid-19, Calon Bupati Petahana Ini Didiskualifikasi KPU

Baca juga: Klaster Ponpes di Banyumas Bertamabah, 76 Santri Positif Covid-19

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: yayan isro roziki
Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved