Breaking News:

Berita Brebes

Telur Asin Brebes Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda, Sejarawan: Ada Kisah Pilu Etnis Tionghoa

Telur Asin Brebes Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda, Sejarawan: Ada Kisah Pilu Etnis Tionghoa

KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA
Ilustrasi telur asin Brebes - Makanan khas Brebes, telur asin, kini ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia. Siapa sangka, ada kisah pilu warga etnis Tionghoa dalam sejarah telur asin. 

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Telur asin Brebes ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia dalam sidang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pada 6-9 Oktober 2020 kemarin.

Siapa sangka dalam sejarah telur asin ada kisah pilu serta perjuangan warga etnis Tionghoa di Brebes.

Sejarawan Pantura, Wijanarto, menuturkan telur asin pertama dibuat tidak lepas dari sejarah panjang dan kelam di daerah Brebes dan Tegal.

Baca juga: Kisah Muhadi Ayah Dedy Yon, Nyantri di Ciwaringin, Jadi Kondektur Bus hingga Dirikan Dedy Jaya Grup

Baca juga: BREAKING NEWS: Pimpinan DPRD Kabupaten Pekalongan Nunung Meninggal, Kecelakaan di Tol Solo-Ngawi

Baca juga: Update Covid-19 Kabupaten Pekalongan: Total 310 Kasus, 208 Sembuh dan 23 Pasien Meninggal

Baca juga: Kejari Jaksel Jamu Makan Siang Jenderal Polisi Tersangka Red Notice Djoko Tjandra, Kejagung Membela

Dulu, telur asin hanya bagian dari ritus ritual sembahyang yang ditujukan pada Dewa Bumi.

Bermula dari sesaji sejit dewa bumi, kemudian masyarakat Tionghoa menjadikan telur asin ini sebagai bagian dari kekuatan untuk bertahan hidup pada masa transisi pasca-Kemerdekaan.

"Selepas revolusi, pada masa transisi periode 1945- 1949, terjadi dekolonisasi."

"Secara politik, masyarakat memiliki problem bidang ekonomi."

"Karut marut ekonomi terjadi akibat konflik minoritas terutama peranakan Tionghoa," kata Wijanarto ketika dihubungi Tribunpantura, Selasa (20/10/2020).

Ia membeberkan, konflik politik di tiga daerah (Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal) disebut juga masa 'cocolan' yakni alat semacam bambu runcing untuk membunuh orang.

Peranakan Tionghoa banyak yang menjadi korban, ditangkap dan dibunuh, terutama di daerah Brebes kota dan Bumiayu (daerah Brebes bagian selatan).

Hingga akhirnya, beberapa dari mereka melarikan diri dari Brebes kota ke daerah Cirebon dan Indramayu.

Sedangkan Tionghoa dari Bumiayu melarikan diri ke daerah Majenang Cilacap.

Halaman
12
Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: yayan isro roziki
Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved