Breaking News:

Bisnis dan Keuangan

APTRI Meradang, karena PTPN Grup Jual Gula Putih Murah: Sangat Tidak Menguntungkan Petani

APTRI Meradang, karena PTPN Grup Jual Gula Putih Murah: Sangat Tidak Menguntungkan Petani Tebu

Istimewa
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI), M Nur Khabsyin. 

Asosisasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) meradang, lantaran PTPN Grup jual gula putih murah. Hal ini dirasa sangat tidak menguntungkan bagi petani tebu.

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) saat ini tidak hanya berbisnis perkebunan.

Melalui anak perusahaan yakni PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII, dan PTPN XIV, masuk ke pasar ritel dengan produk kemasan gula 1 kilogram.

Strategi transformasi bisnis PTPN ini dinilai untuk memenuhi ketersediaan gula sebagai bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat dengan harga yang terjangkau.

Baca juga: Kejutan Jokowi Umumkan Reshuffle Kabinet, Ada 6 Menteri Baru, Gus Tutut Jadi Menag, Risma Mensos

Baca juga: Nelayan Roban Timur Keluhkan Rusaknya Alat Tangkap, Diduga karena Ceceran Batu Bara PLTU Batang

Baca juga: Keluarga Pasien di Banyumas Gugat RS Dadi Keluarga Karena Tak Terima Dicovidkan

Baca juga: Harga Emas Antam di Semarang Hari ini, Mengalami Penurunan Rp 6.000 Berikut Daftar Lengkapnya

Namun demikian, beberapa merek produk gula yang diproduksi PTPN, dianggap mengancam kelangsungan hidup para petani tebu. Pasalnya, gula yang dijual, dinilai terlalu murah.

"Kami sangat menyesalkan penjualan gula murah tersebut, karena sangat memukul gula petani yang sebagian besar belum laku," kata Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI), M Nur Khabsyin, kepada Tribunpantura, Selasa (22/12/2020).

Ia memberikan perhatian gula kristal putih yang dijual PTPN X dan PTPN XI. Direksi Holding PTPN III menetapkan harga gula yang diedarkan di pasaran yakni Rp 10.705 dan 10.825 perkilogram.

Nur Khabsyin yang juga anggota DPRD Jawa Tengah dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menuturkan harga yang ditetapkan tersebut jauh di bawah harga dasar pembelian gula petani oleh investor/perusahaan gula sebesar 11.200 perkilogram.

Padahal, saat ini gula petani produksi giling 2020 baru dibeli sekitar 10 persen dari total kontrak sebanyak 496.000 ton.

"Sebetulnya, PTPN III (Holding) di musim giling sebelumnya sudah menjual gula murah sehingga menyebabkan harga gula cenderung turun, padahal petani berusaha bertahan supaya harga bisa naik ke angka Rp 11,200 perkilogram," jelasnya.

Anggota Komisi C DPRD Jateng ini menambahkan sebenarnya antara petani tebu dan pabrik gula di bawah PTPN ada kemitraan bisnis. Terutama dalam hal pasok tebu.

Akan tetapi, kata dia, kemitraan itu ternoda akibat kebijakan PTPN justru yang cenderung sengaja membunuh petani.

"Kemitraan dengan PTPN juga semakin tidak menguntungkan petani karena pemberian rendemen tebu dan bagi hasil gula cenderung lebih rendah dibanding pabrik gula swasta," tegasnya.

Ia juga menyinggung terkait petani akan diberikan pinjaman untuk biaya garap dan pembelian pupuk. Menurutnya, pemberian tersebut, saat ini nyaris tidak ada. (mam)

Baca juga: 3 Bidan di Puskesmas Kedungwuni II Positif Covid-19, Pelayanan Persalinan Tutup 10 Hari

Baca juga: 12 Kuliner yang Wajib Dicicipi Ketika Berkunjung ke Kota Tegal

Baca juga: ASN Dilarang Keluar Kota Selama Libur Nataru, Jika Melanggar Berikut Ini Sanksinya

Baca juga: Terbongkar! Tarif Lolos Seleksi Bintara Rp 250 Juta per Orang, Oknum Polisi Penerima Suap Disidang

Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved