Berita Wonosobo

Kisah Mulyani Mengenalkan Alat Musik Khas Wonosobo, Bundengan Hingga ke Australia

Bermula dari langkanya pemain Bundengan, Mulyani (53) seorang guru SMP di Wonosobo begerak untuk melestarikan.

Editor: Rival Almanaf
Istimewa
Mulyani, guru seni di SMPN 2 Solomerto yang mengenalkan Bundengan. Alat musik ini masuk dalam kurikulum di sekolah. 

TRIBUN-PANTURA.COM, WONOSOBO - Bermula dari langkanya pemain Bundengan, Mulyani (53) seorang guru SMP di Wonosobo begerak untuk melestarikan.

Tidak tanggung-tanggu, ia bahkan mengenalkan alat musik yang berasal dari Wonosobo itu hingga ke Australia.

Ia memaparkan awal mula ia bergerak karena menurutnya, seluruh anak muda di Wonosobo kala itu tak lagi bisa memainkan Bundengan.

“Pemainnya yang bisa (memainkan) hanya tersisa dua itu. Saya jadi berpikir, bagaimana ya biar bisa melestarikannya,” ujar Bu Mul, begitu panggilan karibnya.

Baca juga: Bupati dan Sejumlah ASN Terpapar Covid 19, Dinkes Purbalingga Tes Swab Anggota Dewan

Baca juga: Seorang Bocah 12 Tahun Tangkap Penjambret yang Rampas Ponselnya

Baca juga: Berikut Prakiraan Cuaca BMKG di Pekalongan Raya, Rabu 23 Desember 2020

Baca juga: Prakiraan Cuaca Kendal Hari Ini Rabu 23 Desember 2020

Mulyani memang memiliki ketertarikan pada seni sejak muda. Waktu duduk di bangku sekolah dasar (SD), dia sudah berkenalan dengan dunia tari dan berlanjut hingga sekolah menengah pertama (SMP). 

Saat ini, ia berprofesi sebagai guru seni di SMPN 2 Selomerto. Profesi itu yang membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk melestarikan alat musik itu pada siswa-siswi yang ia ajar.

“Dibandingkan orang lain, saya yang punya kesempatan lebih untuk mengenalkannya pada generasi muda. Ada siswa-siswi di sekolah,” tuturnya.

Mulyani mempelajari cara memainkan Bundengan pada Pak Munir dan Bukhori. Lalu, ia menjalankan rencana pertama.

Ia taruh Bundengan di lobi sekolah. Tujuannya, agar ada yang bertanya. Sayangnya, berhari-hari alat musik berbentuk unik itu terpajang, tak ada yang bertanya.

Usahanya berlanjut, tiap pagi sesampainya di sekolah, alat musik itu ia mainkan untuk menarik perhatian. Sejak itu, mulai ada hasil. Beberapa siswa-siswi mulai mendatanginya, melihat-lihat, dan bertanya.

Di tahun yang sama, kemudian ia minta izin pada kepala sekolah untuk mengenalkan Bundengan secara serius pada siswa-siswi.

Permintaan itu disetujui dengan menjadikan kegiatan bermusik menggunakan Bundengan menjadi ekstrakurikuler. Saat itu 20-30 anak sudah ikut menjadi anggota.

Tak berhenti sampai situ, Mulyani mau dampak yang lebih besar lagi.

Kemudian, ia sempat melihat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tertulis kalau siswa-siswi diperkenankan untuk mempelajari alat musik sederhana tradisional. Hal itu ia tangkap sebagai peluang.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved