Berita Jateng
BKSDA Jateng Temukan Mangrove Langka di Segara Anakan Cilacap
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Jateng bersama Tim Resort Konservasi Wilayah Cilacap baru-baru ini melaksanakan eksplorasi tanaman jenis Mangro
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muh radlis
TRIBUNPANTURA.COM, CILACAP - Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Jateng bersama Tim Resort Konservasi Wilayah Cilacap baru-baru ini melaksanakan eksplorasi tanaman jenis Mangrove di Segara Anakan.
Eksplorasi ini bertujuan untuk mendokumentasikan jenis Mangrove yang berada di Segara Anakan. Budi mengatakan, jenis mangrove yang diidentifikasi berupa Mangrove sejati dan Mangrove asosiasi.
Mangrove sejati merupakan jenis tanaman yang hidup di daerah pasang surut dan mampu menyerap zat garam.
Tanaman itu juga memiliki sistem adaptasi mengeluarkan kelebihan zat garam yang tidak dibutuhkan melalui batang dan daunnya.
Sedangkan Mangrove asosiasi adalah jenis tanaman yang mampu beradaptasi dengan ekosistem pantai. Bedanya, Mangrove Asosiasi tidak mampu mengeluarkan kelebihan zat garam dari dalam tubuh.
Pada kegiatan tersebut, pihaknya menemukan setidaknya 49 jenis Mangrove baik sejati maupun asosiasi.
"Dari 47 jenis tersebut, 5 di antaranya masih no name atau belum berhasil diidentifikasi jenisnya, " kata Budi Santoso, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Jawa Tengah, Rabu (10/3/2021)
Kegiatan ini, kata dia, sekaligus membuka catatan baru mengenai kehidupan Mangrove Segara Anakan. Bagaimana tidak, menurut referensi yang ada, jenis Mangrove di Segara Anakan sejauh ini disebutkan hanya ada 26 jenis.
Menariknya, pada kegiatan ini, pihaknya juga menemukan spesies yang mulai langka ditemui, yakni jenis Limau lelang atau Merope Angulata.
"Mangrove jenis ini sepintas mirip tanaman jeruk, baik daun maupun durinya. Kecuali bentuk buahnya yang berbeda, " katanya
Segara Anakan adalah laguna raksasa yang terletak di pantai selatan Pulau Jawa di perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dengan Jawa Tengah.
Segara Anakan adalah laguna di antara Pulau Jawa dan Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap. Kawasan Segara Anakan merupakan tempat bertemunya 3 tiga sungai besar, yaitu Sungai Citanduy, Sungai Cibereum dan Sungai Cikonde serta sungai-sungai kecil lainnya.
Kawasan ini juga menjadi penghubung pergerakan ekonomi dan sarana transportasi air masyarakat dari Cilacap menuju Pangandaran Jawa Barat.
Ciri khas Segara Anakan ini adalah adanya hutan mangrove yang terhampar hampir sepanjang Segara Anakan. Laguna Segara Anakan terdiri dari laguna tengah yang dikelilingi oleh rawa-rawa bakau dan lahan pasang surut yang baru saja bertambah, namun sebagian telah diubah menjadi sawah.
Terdapat sekitar 12.230 Ha hutan mangrove dengan tingkat gangguan yang bervariasi di sekitar laguna. Laguna terhubung ke Samudera Hindia melalui dua saluran pasang surut, berjarak sekitar 25 kilometer dan dilindungi dari laut oleh pulau berbatu Nusakambangan (sekitar 30.000 Ha) yang membentang sejajar dengan pantai.
Hutan Mangrove, kata dia, memiliki fungsi ekonomi, ekologi, dan sosial. Fungsi ekonomi yang ada di hutan Mangrove yaitu penghasil kebutuhan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit. Adapun fungsi ekologisnya sebagai pelindung garis pantai, serta habitat berbagai jenis burung, dan satwa lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pantura/foto/bank/originals/hutan-bakau-di-segara-anakan.jpg)