Film Tarian Lengger Maut

Inilah 5 Alasan Harus Nonton Film Tarian Lengger Maut

Isi libur lebaran dengan menyaksikan film terbaru hasil kolaborasi Visinema Pictures dan Aenigma Pictures, yang berjudul Tarian Lengger Maut.

Editor: Abduh Imanulhaq
IST
Pengambilan gambar salah satu scene dalam film 'Tarian Lengger Maut'. Dalam syuting film ini di kaki Gunung Slamet, sejumlah kru mengalami gangguan tak kasat mata. 

Seperti yang sudah disebutkan oleh Yongki Ongestu, film ini memang melibatkan banyak seniman lokal. Bukan hanya senimannya saja, tetapi juga pekerja kreatifnya langsung melibatkan dari daerah lokal.
“Visi kita berusaha untuk selalu bisa direct impact kepada pekerja kreatif dan budaya Indonesia setiap kali kita produksi film atau projek apapun. Di Tarian Lengger Maut ini visi kita membangun pekerja kreatif di daerah yang sangat talented,” kata Aryanna Yuris, produser Aenigma Pictures.

Sekitar 70 persen filmmaker yang terlibat berasal dari tim lokal. Kemudian juga melibatkan banyak seniman lokal yang ikut masuk di dalam film.

“Kita juga mau mengangkat Banyumas. Kita juga langsung melibatkan seniman lokal karena kita percaya untuk memberi direct impact bukan cuma menceritakan tentang mereka, tapi juga memperlihatkan bagaimana mereka bisa hidup dari skill dan profesi mereka,” lanjut Aryanna.

Bukan film horor

Kalau dari judulnya, kamu pasti akan mengira jika film ini akan memiliki jalan cerita seram seperti horor-horor kebanyakan kan? Kalau kamu menebak demikian, sayangnya tebakanmu salah.

Karena film ini bergenre thriller dan kamu harus nonton untuk menyaksikan sendiri cerita yang mendebarkan dari film ini. “Karena walau judulnya ‘maut’ bukan berarti horor. Karena maut kan bisa kematian, pembunuhan,” kata sutradara Yongki Ongestu.

Akting yang tak biasa

Di film ini penonton akan melihat akting yang tak biasa dari Refal Hady dan Della Dartyan. Film ini menjadi momen keluar dari zona nyaman untuk Refal Hady.

Di sini Refal Hady berperan sebagai dokter Jati yang hidupnya memiliki trauma dan misterius. Untuk mendalami peran ini, Refal Hady mengaku sempat kehilangan empati sebagai seorang manusia.

“Kita pemain punya waktu yang cukup lama untuk mendalami peran, termasuk mendalami cara berpikir dan ada satu treatment yang itu sampai menghilangkan empati gue sebagai Refal Hady,” ungkapnya.

Sementara Della Dartyan berperan sebagai Sukma yang tak lain adalah seorang penari lengger. Demi bisa membawakan budaya asal Banyumas itu, Della menghabiskan waktu dua bulan untuk belajar menari. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved