Breaking News:

Berita Slawi

Kementerian LHK Lanjutkan Pemulihan Lahan Terkontaminasi Limbah B3 di Kabupaten Tegal

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI berencana melanjutkan kembali upaya pemulihan lahan di kawasan permukiman di Desa

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
IST
Wakil Bupati Tegal Sabilillah Ardie, memberikan sambutan pada acara Sosialisasi Pelaksanaan Pemulihan Lahan Terkontaminasi Limbah B3 dan Penyadartahuan Bahaya Limbah B3 terhadap Kelompok Rentan Terpapar, di Pendopo Amangkurat, Senin (7/6/2021) kemarin. 

Penulis: Desta Leila Kartika 

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI berencana melanjutkan kembali upaya pemulihan lahan di kawasan permukiman di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal yang tercemar limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) akibat aktivitas usaha pengecoran logam skala rumah tangga.

Informasi ini disampaikan Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah B3 KLHK RI Haruki Agustina, lewat sambutan virtualnya saat berlangsung acara Sosialisasi Pelaksanaan Pemulihan Lahan Terkontaminasi Limbah B3 dan Penyadartahuan Bahaya Limbah B3 terhadap Kelompok Rentan Terpapar di Pendopo Amangkurat, Senin (7/6/2021) kemarin. 

Sebelumnya, pihaknya telah memulai pekerjaan delineasi dan pengangkatan limbah dan tanah terkontaminasi di halaman SMA-SMK NU 01 Penawaja sebanyak lebih kurang 700 meter kubik atau seberat 503 ton. 

Menurut Haruki, Desa Pesarean menjadi salah satu target nasional restorasi ekosistem akibat pencemaran limbah B3. 

Program restorasi atau pemulihan ini akan berlangsung hingga 2023 mendatang. 

“Ini adalah kabar baik bagi upaya perbaikan ekosistem lingkungan di Kabupaten Tegal,” ujar Haruki, dalam rilis yang diterima Tribunjateng.com, Rabu (9/6/2021). 

Kabupaten Tegal, lanjut Haruki, termasuk wilayah dengan dampak luas akibat pencemaran limbah B3 yang salah satunya ada di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna. 

Usaha pengecoran logam rumahan di desa tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1960 sebelum kemudian secara bertahap direlokasi ke perkampungan industri kecil (PIK) Kebasen.

Durasi usaha industri pengecoran logam yang sudah cukup lama, ditambah rendahnya pengetahuan warga setempat akan bahaya limbah B3 telah mengakibatkan unsur tanah dan air tanah di kawasan tersebut tercemar berat.

Halaman
12
Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved