Breaking News:

Berita Jateng

Harga Bahan Baku Naik 100 Persen, Pengrajin Pisau di Kudus Naikkan Harga Jual

Sejumlah perajin pisau dapur di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus terpaksa harus menaikkan harga produknya. Sebab sejak pandemi Covid-19

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Proses pembuatan pisau dapur oleh perajin bernama Solikin (55) di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus, Kamis (15/7/2021). 

TRIBUNPANTURA.COM, KUDUS - Sejumlah perajin pisau dapur di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus terpaksa harus menaikkan harga produknya. Sebab sejak pandemi Covid-19 harga bahan baku pisau dapur berupa besi plat mengalami lonjakan harga 100 persen.

Desa Hadipolo merupakan sentra perajin pisau dapur. Bukan hal yang sulit untuk menemui perajin pisau di desa yang terletak di Jalur Pantura. Sejauh ini belum pernah dari para perajin itu mengeluhkan sepinya pesanan. Apalagi jelang Iduladha, berapa pun pisau yang mereka produksi pasti akan habis diserap pasar.

Namun yang menjadi persoalan bagi para perajin adalah naiknya bahan baku. Hal inilah yang kemudian membuat mereka turut menaikkan harga pisau buatannya.

Di antara perajin pisau di Hadipolo yakni Solikin (55). Dia yang setahun lalu menjual produknya berupa pisau ukuran sedang per kodi Rp 50 ribu, kini dia menjual per kodinya Rp 90 ribu. Kenaikan ini dia selaraskan dengan naiknya bahan baku.

Besi plat strip atau dia biasa menyebutnya plat S sebagai bahan baku pisau sebelum pandemi dia beli seharga Rp 12 ribu per kilogramnya, kini sudah tembus Rp 24 ribu. Kenaikan itu terjadi secara bertahap tapi terus menerus.

"Kenaikan harganya paling Rp 1.000 tapi terus menerus dari yang satu kilogramnya besi plat Rp 12 ribu kini sudah menjadi Rp 24 ribu," kata Solikin saat ditemui di kediamannya di RT 3 RW 1 Desa Hadipolo, Kamis (15/7/2021).

Selain kenaikan harga bahan baku, kadang kala malah mengalami ketersendatan.

"Kadang-kadang bahan baku tersendat. Itu sejak setengah tahun lalu," katanya.

Hal serupa juga dialami oleh perajin lainnya: Ali Munif (51). Naiknya bahan baku pun akhirnya membuat Ali menaikkan pula harga pisau buatannya. Pisau ukuran kecil yang dibuat Ali per kodi yang semula Rp 50 ribu, kini menjadi Rp 60 ribu.

Bahan baku para perajin pisau di Hadipolo dipasok dari Jakarta. Hanya saja di desa tersebut ada pengepulnya. Jadi para perajin jika membutuhkan tinggal beli ke pengepul tersebut.

Jelang Iduladha ini permintaan pisau dapur dari perajin Hadipolo sedikit terdapat lonjakan permintaan. Meski begitu para perajin sampai kewalahan menuruti permintaan pesanan. Sebab, tidak harus jelang lebaran kurban. Jauh hari sebelumnya, pisau buatan mereka selalu laris terjual.

Solikin yang dibantu oleh enam pekerjanya setiap hari mampu memproduksi 42 kodi pisau merek Pak Kumis pun selalu habis. Pangsa pasarnya biasanya Semarang, Kebumen, bahkan sampai Kalimantan.

"Kadang ada yang sampai pesan terlebih dulu. Uang mau ditransfer dulu, tapi kami tidak sanggup karena banyaknya pesanan," kata dia.

Begitu juga dengan Ali Munif, dia seorang diri sehari rata-rata bisa produksi 3 kodi. Pisau buatannya yang diberi merek P Jenggot itu selalu laris terjual.

"Biasanya kalau pisau saya larinya ke Demak dan Semarang" kata dia.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved