Breaking News:

Opini

Opini Ketum Jaya Nusa Idham Cholid: Tabayun, Melawan Fitnah di Tengah Wabah

Opini Ketum Jaya Nusa Idham Cholid: Tabayun, Melawan Fitnah di Tengah Wabah, banjir hoaks lebih bahaya dan mematikan, infodemik

Editor: yayan isro roziki
Dok Pribadi
Idham Chloid, Ketua Umum Jamaah Yasin Nusantara (Jayanusa), cum Pembina Gerakan Towel Indonesia. 

Idham Cholid, Ketua Umum Jayanusa, cum Pembina Gerakan Towel Indonesia

TRIBUNPANTURA.COM - Dalam menghadapi pandemi Covid-19 dengan berbagai dampak masalahnya, pesan mendalam KH. Ulin Nuha Arwani, berikut ini patut kita renungkan. "Sing luwih waspodo kalih fitnahe corona, amargi langkung ageng fitnahe tinimbang wabahe."

Demikian kiai sepuh dari Kudus, Jawa Tengah, itu berpesan. Maksudnya jelas, yang juga harus lebih diwaspadai adalah fitnah berkaitan dengan corona, karena ternyata fitnahnya itu justru lebih besar daripada wabahnya.

Kita menyaksikan sendiri, misalnya, bagaimana pemberitaan seputar pandemi Covid-19 demikian gencar. Setiap hari, bahkan setiap saat, kita dibanjiri berbagai informasi yang sudah sangat sulit terkendali. Benar-benar menumpulkan nalar sehat masyarakat.

Publik justru dibuat panik. Mulai dari korban yang berjatuhan, rumah sakit yang penuh sesak, kelangkaan oksigen, PPKM Darurat yang membatasi ruang usaha dan menutup tempat ibadah, hingga isu tentang konspirasi untuk mengerdilkan umat Islam.

Itu adalah sekian daftar dari berbagai informasi yang malah menimbulkan kebingungan publik, menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan dan penyelenggara pemerintahan.

Pandemik vs Infodemik

Pertama kali virus corona muncul pada awal Desember 2019 di Wuhan, China (yang kemudian disebut Covid-19), meskipun sudah sangat meresahkan masyarakat di sana, tapi publik dunia masih biasa-biasa saja. Jangankan kita yang di sini, Presiden USA waktu itu, Donald Trump bahkan sekadar menganggapnya sebagai virus biasa asal China.

Namun dengan penyebaran yang demikian cepat, WHO akhirnya menetapkan bahwa kasus corona yang berakibat Covid-19 itu adalah darurat global dan pada 9 Maret 2020 dinyatakan sebagai pandemi. Karena dalam beberapa minggu saja, di luar China telah mengalami peningkatan bekali-kali lipat.

Pada awalnya, konon, WHO sendiri menghindari istilah "pandemi" karena jelas akan membawa berbagai konsekuensi. Pandemi menuntut respons cepat --baik dari pemerintah, otoritas kesehatan, maupun masyarakat itu sendiri-- untuk memutus penyebarannya. Dalam beberapa hal, istilah pandemi juga bisa menciptakan keresahan dan kepanikan publik. Selain itu, konsekuensi penanggulangannya memakan anggaran yang tidak ringan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved