Breaking News:

Berita Slawi

Napi Terorisme : Pengeboman di Tempat Ibadah Itu Tak Sesuai dengan Fikih

Satu narapidana tindak pidana terorisme (Napiter) Achmad Taufikurrahman, mengucap ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
TRIBUN PANTURA/DESTA LEILA KARTIKA
Narapidana tindak pidana terorisme (Napiter) Achmad Taufikurrahman (kemeja lengan panjang putih dan pakai masker merah putih), saat melakukan proses ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Aula Lapas Kelas llB Slawi, Kabupaten Tegal, Rabu (8/9/2021). 

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Satu narapidana tindak pidana terorisme (Napiter) Achmad Taufikurrahman, mengucap ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Aula Lapas Kelas llB Slawi, Kabupaten Tegal, Rabu (8/9/2021).

Napiter yang merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bali ini, mengikuti ikrar setia kepada NKRI sebagai bentuk implementasi hasil akhir program deradikalisasi serta pengikat tekad, semangat untuk bersedia kembali membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara yang dimaksud program deradikalisasi sesuai yang tertera di Wikipedia, merupakan tindakan preventif kontraterorisme atau stratregi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan.

Ditemui setelah kegiatan, Napi teroris di Lapas Kelas llB Slawi yang mengucap ikrar setia kepada NKRI Achmad Taufikurrahman mengatakan, keinginan mengucap ikrar setia kepada NKRI datang dari dirinya sendiri tanpa ada dorongan orang lain.

Pemicu nya, ia bercerita bahwa ada beberapa amaliyah yang menurutnya tidak sesuai dengan ilmu fikih.

Sehingga pada akhirnya Achmad memantapkan diri untuk bersedia mengucapkan ikrar setia kepada NKRI.

"Saya merasa ada suatu hal yang salah dan tidak sesuai dengan ilmu fikih yang saya ketahui.

Contohnya pengeboman di gereja atau tempat ibadah, itukan tidak boleh sehingga saya memutuskan untuk mengucap ikrar setia kepada NKRI," ungkap Achmad, pada Tribunjateng.com.

Selain melakukan pengeboman di tempat ibadah, menurut Achmad hal lain yang membuatnya semakin ragu dan merasa ada yang salah yaitu dalam fikih islam atau jihad perang tidak diperbolehkan membunuh anak-anak, perempuan, pendeta, dan lain-lain.

Sedangkan sekarang ini, malah semakin marak hal yang tidak ada di dalam fikih tersebut.

Halaman
123
Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved