Breaking News:

Berita Slawi

Ini Syarat Wajib Bagi Wisatawan yang Ingin Mendaki Gunung Slamet

Polres Tegal bersama perwakilan pengelola basecamp pendakian Gunung Slamet telah menyusun standarisasi SOP yang wajib diketahui dan ditaati para penda

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
IST
Forum diskusi antara Polres Tegal bersama perwakilan pengelola basecamp pendakian Gunung Slamet untuk menyusun standarisasi SOP yang wajib diketahui dan ditaati para pendaki. Berlokasi di basecamp Gupala Edelweis Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Rabu (13/10/2021). 

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Polres Tegal bersama perwakilan pengelola basecamp pendakian Gunung Slamet telah menyusun standarisasi SOP yang wajib diketahui dan ditaati para pendaki.

Forum diskusi tersebut berlokasi di basecamp Gupala Edelweis Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Rabu (13/10/2021). 


Selain membahas mengenai SOP pendakian, pada kesempatan yang sama juga dibahas tentang pengembangan potensi wisata jalur pendakian Gunung Slamet dalam rangka peningkatan ekonomi masyarakat. 


Hadir dalam forum diskusi, Kasi Humas Polres Tegal AKP Supratman, RPH Perhutani Guci Saefulloh, perwakilan pengurus basecamp pendakian wilayah Kabupaten Tegal antara lain, Bosapala Sawangan, Bokapala Sigedong, Permadi Guci, Gupala Guci, Kompak Rembul dan Dukuhliwung, relawan BPBD, serta perwakilan Mapala STAPALA IBN Slawi. 


Kapolres Tegal AKBP Arie Prasetya Syafa'at melalui Kasi Humas AKP Supratman mengungkapkan, adanya penyusunan standarisasi SOP pendakian Gunung Slamet untuk menyamakan persepsi antar pengurus basecamp. 


Bagi wisatawan yang datang dan ingin mendaki Gunung Slamet saat ini ada tambahan batasan usia yaitu dibawah 15 tahun harus ada pendampingan. 


"Aturannya saat ini, jika ada calon pendaki Gunung Slamet yang usianya 15 tahun kebawah maka wajib ada pendampingan.

Hal ini karena kami berpatokan pada kejadian hilangnya anak di Gunung Guntur Jawa Barat beberapa waktu lalu, seminggu baru ditemukan," ujar AKP Supratman, pada Tribunjateng.com, Rabu (13/10/2021). 


Sementara untuk SOP lainnya, terkait penerapan protokol kesehatan ketat bagi wisatawan yang melakukan pendakian mengingat sebagian wisatawan berasal dari luar kota.


Adapun selebihnya membahas mengenai pengembangan potensi wisata jalur pendakian dengan melibatkan masyarakat sekitar, salah satunya dengan penerapan homestay bagi wisatawan yang datang. 


Secara tidak langsung akan memberikan dampak positif, yaitu menambah penghasilan bagi warga yang rumahnya digunakan sebagai homestay oleh wisatawan yang akan melakukan pendakian di Gunung Slamet.


Pengelolaan sampah secara terpadu dan berkelanjutan melibatkan pengurus basecamp, relawan, dan masyarakat sekitar dengan menerapkan larangan membuang sampah sembarangan, serta menukarkan kartu identitas dengan sampah yang dibawa turun oleh pendaki.


Dalam kesempatan ini, juga menyoroti laporan masyarakat melalui media sosial Polres Tegal terkait pungutan liar yang dilakukan oleh oknum masyarakat di jalur pendakian permadi Guci.


Musyawarah dilakukan sebagai bentuk upaya pencegahan dengan mengedepankan restorative justice (pertemuan antara korban dan terdakwa atau pelaku). 


"Kami meminta untuk masing-masing pengurus basecamp membuat inovasi dan ide kreatif terkait pengembangan potensi wisata jalur pendakian Gunung Slamet tanpa merusak, dan mengubah fungsi hutan dengan tujuan untuk pemulihan ekonomi nasional," pungkasnya. 

Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved