Berita Semarang

76 Siswa dan Guru di Semarang Terpapar Covid-19 Jadi Penyebab PTM Dihentikan Sementara

76 siswa dan guru di Kota Semarang terpapar Covid-19. Hal ini yang menyebabkan pembelajaran tatap muka (PTM) di Kota Semarang dihentikan sementara wak

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: Moch Anhar
TRIBUNPANTURA.COM/EKA YULIANTI FAJLIN
Suasana Pembelajaran Tatap Muka di Kota Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - 76 siswa dan guru di Kota Semarang terpapar Covid-19. Hal ini yang menyebabkan pembelajaran tatap muka (PTM) di Kota Semarang dihentikan sementara waktu selama dua pekan mulai Senin (7/2/2022). 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam menyampaikan, jumlah kasus di setiap sekolah berbeda-beda.

Ada satu sekolah hanya ditemukan satu atau dua kasus. Ada pula yang ditemukan lebih dari sepuluh kasus hingga menyebabkan klaster sekolah. 

Baca juga: 13 Desa di Siwalan Pekalongan Terendam Banjir

Baca juga: Mahasiswa USM Dirikan Perusahaan Jasa Telekomunikasi, Rektor Beri Dukungan dan Rekomendasi

Baca juga: 11.079 Jiwa di Kabupaten Pekalongan Terdampak Banjir

Temuan kasus tersebut merupakan hasil random sampling yang dilakukan di sekolah oleh puskesmas di masing-masing wilayah.

Sejak September hingga Februari ini, Dinas Kesehatan menjadwalkan random sampling, satu diantaranya di sekolah. 

"SD ada, tapi yang paling banyak memang di SMA/SMK. Kemarin, saya sampaikan kepada pak wali, mungkin ada sekitar 76.  Kemudian, guru juga ada beberapa yang nyumbang juga walaupun tidak sebanyak siswa," sebut Hakam, Senin (7/2/2022). 

Maka dari itu, lanjut Hakam, Pemerintah Kota Semarang mengambil kebijakan untuk menghentikan PTM selama dua pekan sembari melihat perkembangan kasus.

Dia berharap, klaster sekolah ini tidak murni penularan di lingkungan sekolah. Ada siswa yang tertular dari keluarga atau orangtuanya. 

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, peningkatan kasus di Kota Semarang masih didominasi klaster perusahaan dan klaster pendidikan. 

Menurutnya, klaster perusahaan ini terjadi karena karyawan memang disibukkan dengan dunia kerja. Seharusnya, usia produktif lebih memahami penerapan protokol kesehatan.

Sedangkan di dunia pendidikan, siswa terutama SD, TK, bahkan SMP sudah diberitahu untuk menerapkan prokes terkadang lalai jika bertemu rekan kelasnya. 

"Jadi, dunia pendidikan kami off-kan dua minggu supaya teman-teman di sekolah  saya minta untuk direfresh lagi oleh Kepala Dinas Pendidikan," papar Hendi, sapaannya. 

Dia meminta Dinas Pendidikan mengecek kembali protokol kesehatan di setiap sekolah apakah sudah sesuai SOP atau justru sebaliknya.

Baca juga: Kemenag Ajak Pemuda Aktif Gencarkan Toleransi Beragama di Dunia Maya

Baca juga: Ikut Penanganan Bencana Tanah Longsor, Empat Wartawan Pekalongan Terima Penghargaan dari Kapolres

Baca juga: Polda Jateng Catat Terjadi Lonjakan Covid 19 Selama 4 Hari Terakhir

Jika belum sesuai SOP, dia meminta dilakukan perbaikan selam dua pekan ini, termasuk penyemprotan disinfektan, penyediaan wastafel dan air mengalir, serta pengaturan jaga jarak. 

"Jadi, itu itu adalah bagian komitmen kita untuk melindungi adik-adik supaya mereka tetap sehat tapi juga bisa mendapatkan pelajaran yang maksimal," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved