Berita Slawi

Berikut Ini Tiga Tempat di Kabupaten Tegal yang Punya Sejarah di Balik Pembuatannya

Setiap tempat memiliki cerita atau nilai historis sejarah masing-masing, ada yang berlatar pendahulu

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
TRIBUN PANTURA/DESTA LEILA KARTIKA
Suasana di pemandian air panas pancuran 13 yang ada di Daya Tarik Wisata (DTW) Guci Kabupaten Tegal. 

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Setiap tempat memiliki cerita atau nilai historis sejarah masing-masing, ada yang berlatar pendahulu, warisan jaman purba, ada juga karena kepercayaan warga sekitar.


Berikut Tribunjateng.com merangkum tiga lokasi di Kabupaten Tegal yang memiliki cerita sejarah atau asal usul dalam pembuatannya.


1. Wisata Religi Ikan Tambra, Desa Cenggini, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal


Ikan Tambra atau yang memiliki nama ilmiah Tor tambroides ini merupakan salah satu jenis ikan air tawar di Indonesia.


Ikan Tambra juga dikenal dengan sebutan ikan dewa karena selain memiliki bentuk yang indah, ikan  tersebut harga jualnya pun sangat fantasis bisa mencapai Rp 1 juta per kilogram.


Siapa sangka? Ikan satu ini juga memiliki cerita sejarah panjang terutama bagi masyarakat khususnya Desa Cenggini, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.


Adapun cerita paling menarik yaitu mengenai ikan Tambra yang tidak boleh dipancing.


Menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Tegal, balong (kolam) ikan Tambra yang ukurannya cukup besar ini dirawat oleh masyarakat sekitar dan pemerintah desa.


Menurut salah satu warga asli Desa Cenggini, Saepudin, kisah ikan tambra tidak lepas dari tiga tokoh Tegal yaitu Pangeran Purbaya, Mbah Ki Gede Sebayu, dan Mbah Ciptosari yang merupakan leluhur Desa Cenggini.


Diceritakan, di sekitar lokasi kolam ini ada sebuah padepokan dan pada saat itu ada pertempuran santri antara Pangeran Purbaya, Ki Gede Sebayu, dan Mbah Ciptosari.


Pangeran Purbaya yang berada di pesisir Tegal karena ada laut sehingga banyak terdapat ikan, kemudian saat hendak datang ke daerah pegunungan berkata "Wah kalau di gunung pasti tidak ada ikan."


Kemudian Mbah Ciptosari menjawab, "Kalau ada air pasti ada ikan."


Akhirnya dengan karomah Mbah Ciptosari, dulu di sekitar lokasi ada sebuah kelapa gading, lalu disabdo oleh Mbah Ciptosari, sesudah itu kelapa diambil, kelapa gading diambil dan diolah.


"Ikan ini tercipta sekitar empat abad lalu, berasal dari karomah (keistimewaan) Mbah Ciptosari. Di dalam kelapa yang sudah disabdo mbah, ada sebuah ikan mah disitu karomahnya," ungkap Saepudin.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved