Berita Jateng

Awas! Peredaran Uang Palsu Makin Marak di Cilacap, Polisi Bekuk Empat Pengedar

Jelang Ramadan, jajaran Satreskrim Polres Cilacap berhasil mengungkap kasus peredaran uang palsu di Cilacap.

TribunPantura.com/Pingky Setiyo Anggraeni
Kapolres Cilacap, AKBP Eko Widiantoro menunjukkan barang bukti berupa uang palsu yang berhasil diamankan oleh jajaran Satreskrim Polres Cilacap di wilayah Jeruklegi dan Gandrungmangu, Kamis (31/3/2022). 

TRIBUNPANTURA.COM, CILACAP – Jelang Ramadan, jajaran Satreskrim Polres Cilacap berhasil mengungkap kasus peredaran uang palsu di Cilacap.

Sebanyak empat pengedar berhasil dibekuk petugas. 

Kapolres Cilacap, AKBP Eko Widiantoro mengatakan, bahwa peredaran uang palsu terjadi di dua wilayah yaitu di Gandrungmangu dan Jeruklegi.

“Ada 2 kasus yang ditangani Satreskrim hari ini, yaitu kejadian di wilayah Gandrungmangu ada 1 tersangka yang kami amankan dengan inisial EN, kemudian di wilayah Jeruklegi 3 tersangka yaitu inisial LF, SF, dan AR,” kata AKBP Eko Widiantoro dalam konferensi pers, Kamis (31/3/2022).

Polisi berhasil mengamankan 47 lembar uang pecahan Rp 50.000 dan 3 lembar uang pecahan Rp 10.000 dari tangan keempat tersangka.

Adapun kronologi pengungkapan kasus uang palsu di Jeruklegi berawal dari penangkapan AR di Desa Tritihwetan yang selanjutnya dilakukan pengembangan hingga pihak kepolisian berhasil membekuk 2 tersangka lainnya yaitu SF dan LF.

Dari tiga orang tersangka, polisi berhasil mengamankan 25 lembar uang palsu pecahan Rp 50.000 dan 3 lembar uang palsu pecahan Rp 10.000.

Modus yang digunakan ketiga tersangka yakni untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari di warung kecil seperti rokok dan barang kebutuhan lainnya.

Para pelaku diketahui mendapatkan uang palsu dari media sosial Facebook.

Namun Polisi masih melakukan penyelidikan guna mendapatkan pelaku pembuat uang palsu tersebut.

“Para pelaku mendapatkan uang palsu secara online, namun untuk online masih kita lakukan penyelidikan untuk mendapatkan pelaku atau aktor yang membuatnya,” katanya.

Dari hasil keterangan tersangka diketahui bahwa ketiganya sudah 8 kali melakukan aksi tersebut dan dimulai sejak tahun 2021.

Sementara untuk kasus peredaran uang palsu di Gandrungmangu, diawali dengan kecurigaan salah satu pedagang buah terhadap seorang pembeli di Pasar STA (Stasiun Transit Agribisnis) Gandrungmangu ketika bertransaksi.

Pedagang buah merasa curiga terhadap EN lantaran saat akan mengecek 4 lembar uang pecahan Rp 50.000 darinya, tersangka EN terlihat gugup dan kemudian meminta kembali 4 lembar uang tersebut dengan alasan akan membeli buah di pedagang lain.

Halaman
12
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved