Berita Tegal

Pelaku Pembunuhan yang Mutilasi Organ Vital Korban di Jatimulya Tegal Dinyatakan Tidak Gila

Kasus pembunuhan sadis dengan kondisi organ vital korban terpotong di area persawahan Desa Jatimulya, beberapa waktu lalu, memasuki tahap baru.

TribunPantura.com/Desta Leila Kartika
Kapolres Tegal AKBP Arie Prasetya Syafa'at memberikan keterangan kepada wartawan dalam release kasus pembunuhan di halaman Polres Tegal, Jumat (8/4/2022). 

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Kasus pembunuhan sadis dengan kondisi organ vital korban terpotong di area persawahan Desa Jatimulya, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal beberapa waktu lalu, memasuki tahap baru.

Dalam release yang digelar di Mapolres Tegal,mengungkap hasil pemeriksaan psikologi tersangka, Khadirun (44), dari Biro Sumber Daya Manusia (SDM) bagian psikologi Polda Jateng.

"Sesuai hasil pemeriksaan dari tim Biro SDM bagian Psikologi Polda Jateng, tersangka tidak ada indikasi gangguan jiwa sehingga dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum," ujar Kapolres Tegal, AKBP Arie Prasetya Syafa'at, Jumat (8/4/2022).

Dijelaskan secara rinci, pada pendalaman psikologis tersangka, pihaknya menggunakan dua sumber yaitu melalui dokter ahli jiwa RSUD dr Soeselo Slawi dan Biro Psikologi Polda Jateng.

Hasilnya,  dari kedua sumber tersebut mengatakan bahwa tersangka tidak mengalami gangguan jiwa dan bisa dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang telah dilakukan yaitu memutilasi korban.

Berdasar pada hasil tersebut, maka perkara kasus mutilasi organ vital yang dialami korban yaitu Kasni (59) akan terus dilanjutkan sesuai ketentuan hukum yang ada.

"Terkait motif pelaku kenapa tega melakukan aksi mutilasi tersebut atau hal-hal lain akan kami dalami secepatnya."

"Ketika sudah kami ketahui motifnya, maka segera kami update (informasikan)," ungkapnya.

AKBP Arie menuturkan, pada pemeriksaan kali ini, tersangka Khadirun mengalami sedikit perkembangan karena sudah mau berbicara.

Meskipun masih tergolong menutup diri terutama jika diberi pertanyaan yang mengarah ke kasus mutilasi, tempat kejadian perkara (TKP), situasi di TKP, dan lain-lain.

Tersangka selalu mengelak, menutup diri, dan mengalihkan pembicaraan dari topik mutilasi yang dilakukan.

Hanya saja, katanya, tersangka sudah mau menjawab tapi jawaban tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan petugas.

"Intinya sesuai hasil observasi, tersangka memiliki orientasi cukup baik terkait waktu, tempat, dan ruang."

"Maksudnya, ketika tersangka kami tanya mengenai salat lima waktu tahu atau tidak? yang bersangkutan menjawab tahu dan bisa menyebutkan urut mulai subuh-isya."

Halaman
12
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved