Bisnis dan Keuangan

Perekonomian Jateng Tumbuh 5,16 Persen pada Triwulan I 2022, Didorong Konsumsi Rumah Tangga

Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan I 2022 tumbuh 5,16 persen (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Nasional yang sebesar 5,01 persen (yoy).

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: m zaenal arifin
TRIBUN JATENG/IDAYATUL ROHMAH
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Rahmat Dwi Saputra, saat diwawancarai awak media usai acara di Hotel Alila Solo, beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-PANTURA.COM, SEMARANG - Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan I 2022 tumbuh 5,16 persen (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Nasional yang sebesar 5,01 persen (yoy).

Namun, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (5,42 persen Yoy).

"Meskipun melambat, pertumbuhan positif tersebut mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi Jawa Tengah masih terus berlanjut," terang Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, dalam keterangan persnya, Minggu (15/5/2022).

Berdasarkan sisi pengeluaran, disebutkannya, sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah didorong oleh konsumsi Rumah Tangga (RT) dan ekspor luar negeri.

Sementara dari sisi lapangan usaha (LU), sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi ditopang oleh industri pengolahan, pertanian, serta transportasi dan pergudangan.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi RT tumbuh 4,30 persen (yoy) didorong oleh persebaran Covid-19 yang terkendali, peningkatan pencapaian vaksinasi dosis lengkap, dan percepatan vaksin booster.

"Kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga turut mendorong perbaikan konsumsi masyarakat, antara lain berupa relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan low cost green car (LCGC) sebesar 100 persen dan non LCGC sebesar 50 persen," sebutnya.

Selain itu, penetapan kebijakan loan to value (LTV) sektor properti dan kendaraan bermotor yang akomodatif, serta Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) pembelian properti sebesar 50 persen hingga Juni 2022, juga mampu mendorong konsumsi RT.

Kinerja ekspor luar negeri nonmigas masih tumbuh tinggi yaitu 28,23 persen (yoy), namun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (55,43 persen; yoy).

Dikatakan, keterlambatan ekspor dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas dan perlambatan permintaan eksternal.

Halaman
123
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved