Berita Batang

Belasan Ekor Sapi di Kabupaten Batang Terindikasi Wabah PMK, Diduga Berasal dari Jawa Timur

Sebanyak 13 ekor sapi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah terindikasi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Penulis: dina indriani | Editor: m zaenal arifin
TribunPantura.com/Dina Indriani
Petugas Dislutkanak Batang saat melakukan pemeriksaan sapi yang terindikasi terjangkit PMK di Menguneng, Warungasem, Selasa (17/5/2022). 

TRIBUN-PANTURA.COM, BATANG - Sebanyak 13 ekor sapi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah terindikasi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Dari belasan ekor sapi yang terindikasi tersebut berasal dari tiga kandang di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Batang, Tersono, dan Warungasem.

Setelah mendapatkan laporan dari masyarakat dan petugas lapangan, tim Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Dislutkanak) langsung menerjunkan tim untuk melakukan pemeriksaan.

"Di Batang muncul pertama ternak yang terindikasi PMK itu di Dukuh krengseng, Desa Rowobelang, Kecamatan Batang, kemudian di Rejosari Barat, Kecamatan Tersono, terbaru di Desa Menguneng, Kecamatan Warungasem."

"Kemarin ada 6 ekor, dan hari ini kita ada cek lagi sekitar 7 ekor terindikasi jadi totalnya ada 13 ekor terindikasi PMK," tutur Kepala Dislutkanak, Windu Suriadji, usai pemeriksaan, Selasa (17/5/2022).

Sampel ke 13 ekor sapi yang terindikasi PMK tersebut telah dikirim ke Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta untuk diuji laboratorium.

"Kita melakukan pengecekan dan amati dan ternyata ada menunjukkan gejala klinis berupa hipersalivasi atau berliur tanpa henti, lesu atau sariawan di mulut dan hidung."

"Pengecekan di tujuh ekor hari ini, empat ekor terindikasi lesu dan hipersalivasi di seluruhnya," terangnya.

Berdasarkan keterangan pemilik kandang, empat ekor sapi didapatkan dari Jawa Timur. 

Kemudian, tiga sapi baru yang datang dari Kabupaten Pekalongan. Dugaan kuat, sapi dari Kajen tersebut juga berasal dari Jawa Timur dilihat dari jenisnya. 

"Karena saat ini memang di Jawa Timur, PMK sedang mewabah," ujarnya.

Ia menambahkan, wabah tersebut tidak menular kepada manusia namun manusia bisa menjadi pembawa penyakit tersebut kepada hewan.

Untuk antisipasi penyebaran, pihaknyapun memberikan edukasi pemilik kandang atau peternak untuk tidak mengeluarkan hewan yang terindikasi.

"Selain itu juga kandang disemprot disinfektan setiap hari, dan memberi vitamin pada hewan terindikasi setiap harinya,"pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved