Berita Jateng

Cerita Para Perempuan Keluarga ABK Korban Perbudakan Kapal Asing Asal Tiongkok

Cerita Para Perempuan Keluarga ABK Korban Perbudakan Kapal Asing Asal Tiongkok

Penulis: iwan Arifianto | Editor: m zaenal arifin
Tribun Pantura.com/Iwan Arifianto
Warga melintas di papan besar berpesan Stop Perbudakan Modern Laut di depan Kantor Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Tegal, Kademangan, Demangharjo, Kabupaten Tegal, Rabu (11/5/2022). 

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Setiap subuh, Susenti Febrilia (29) harus pergi kerja. Jam menunjukkan pukul 05.00 WIB, ia harus berangkat bekerja di tempat laundry di daerah Cikarang, Jawa Barat.

Kehidupannya sekarang memang serba tergesa-gesa.

Jauh berbeda dengan dua tahun lalu saat suaminya masih hidup. Ia kini menjadi tulang punggung keluarga selepas suaminya meninggal dunia di kapal asing sebagai Anak Buah Kapal (ABK).  

Bagi Susenti menjadi perantau dengan bekerja dan meninggalkan anak sama sekali tak terbayangkan sebelumnya. 

Ia dulu adalah ibu rumah tangga, mengurus urusan domestik, sedangkan suaminya kerja di publik sebagai ABK.

Kini ia harus banting tulang seorang diri untuk menghidupi anak semata wayangnya yang kini duduk di kelas 5 SD. 

Susenti mengatakan, kondisi tersebut tak akan terjadi semisal suaminya yang bernama Suwanto tak berangkat menjadi ABK di kapal Xingbang 908 berbendera China.

Nasi telah mejadi bubur, Suwanto telah meregang nyawa di kapal tersebut. 

"Saya terpaksa bekerja setelah suami meninggal dunia di kapal asing. Kini saya ngekos jauh dari anak. Ia saya titipkan ke ibu saya untuk diasuh di Cirebon," tuturnya kepada Tribun melalui sambungan telepon, Rabu (11/5/2022).

Ia mengenang, suaminya bekerja di kapal Xingbang 908 berbendera Tiongkok melalui agensi PT Samudera Andalan Sejahtera (SAS) Tegal.

Suaminya ingin bekerja di kapal asing lantaran melihat ada seorang kawannya yang sukses bekerja sebagai ABK WNI di kapal asing. 

Meski demikian, Susenti sempat mencegah suaminya agar tak bekerja sebagai ABK di kapal asing.

Alasannya sederhana, suaminya tak memiliki bekal kemampuan di bidang tersebut.

Apalagi sebelumnya, suaminya hanya bekerja sebagai pelaku usaha UMKM dengan membuka warung di rumahnya. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved