Breaking News:

Berita Nasional

Kasus Penembakan Brigadir J, Pengamat Hukum Ini Minta Semua Pihak Hormati Proses Penyidikan

Agar tidak gaduh, sebaiknya semua pihak menghormati proses penyidikan yang sedang dilakukan polisi.

Editor: m zaenal arifin
Dokumentasi
Pengamat hukum, Hendra Wijaya S.T.,S.H.,M.H. 

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Mabes Polri hingga kini masih melakukan penyelidikan kasus polisi saling tembak antara Brigadir Yosua Hutabarat dengan Bharada E di rumah Irjen Pol Ferdy Sambo, yang mengakibatkan tewasnya Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Kasus tersebut menjadi perhatian seluruh pihak. Sehingga memunculkan argumen dan pandangan masing-masing kalangan.

Pengamat Hukum, Hendra Wijaya S.T.,S.H.,M.H. mengatakan bahwa saat ini proses penyidikan sedang berlangsung.

Agar tidak gaduh, sebaiknya semua pihak menghormati proses penyidikan yang sedang dilakukan polisi.

"Mari kita semua menahan diri dan menyerahkan penyelesaian kasus meninggalnya Brigadir J kepada pihak Kepolisian. Karena pengacara itu bukan dukun yang bisa memberikan asumsi pribadi," kata Hendra Wijaya, dalam keterangannya, Kamis (28/7/2022).

Hendra Wijaya yang memiliki kantor advokat di EightyEight@Kasablanka Jalan Casablanca Raya Kav.88, Jakarta Selatan itu juga memuji sikap Kapolri yang telah menonaktifkan tiga perwira Polri.

Ketiganya yaitu Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, Karo Paminal Brigjen Hendra, dan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Budhi.

"Ini kasusnya masih diselidiki, dan belum diputus oleh Majelis Hakim, tapi opininya sudah berkembang kemana-mana. Kasihan keluarga anggota Polri yang sudah dinonaktifkan tersebut. Mereka sudah mendapat tekanan secara psikologis dan mendapatkan kecaman dari masyarakat," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Brigadir Yosua Hutabarat meninggal dunia pada Jumat (8/7/2022) sore.

Keterangan polisi, Yosua tewas dalam baku tembak dengan Bharada E di rumah Irjen Pol Ferdy Sambo.

Motif baku tembak, polisi mengatakan berawal dari aksi Brigadir Yosua Hutabarat yang masuk ke kamar pribadi Ferdy Sambo.

Di dalam kamar itu ada istri Ferdy.

Yosua disebut polisi melakukan pelecehan dan penodongan senjata.

Kemudian ada teriakan istri Sambo, hingga akhirnya Bharada E turun memeriksa ke arah sumber teriakan.

Dia menegur Yosua yang baru keluar dari kamar, kemudian dibalas tembakan, dan akhirnya baku tembak.

Namun pihak keluarga banyak yang meragukan kronologi tersebut.

Apalagi di tubuh Yosua juga ada bekas mirip luka sayatan dan luka lebam.

Selain itu juga merasa janggal dengan lamanya polisi menyampaikan pernyataan pers, yakni 3 hari setelah Yosua meninggal dunia.

Tak hanya itu, kejadian berikutnya juga membuat publik semakin merasa janggal, karena pencabutan decoder CCTV hingga lokasi kejadian yang ternyata tidak juga dipasang garis polisi hingga beberapa hari setelah kejadian. (*)

Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved