Berita Slawi

802 Lembar Uang Palsu Ditemukan Beredar di Eks Karesidenan Pekalongan hingga Juli 2022

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal, menyelenggarakan Capacity Building tahun 2022 yang didalamnya

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
TRIBUN PANTURA/Desta Leila Kartika
Unit Pelaksanaan Uang Rupiah, Ahmad Afandi, sedang memberikan paparan mengenai temuan uang palsu (upal) khususnya di wilayah eks karesidenan Pekalongan. Acara berlangsung di Hotel Inside By Melia, Yogyakarta, Sabtu (30/7/2022) malam. 

TRIBUNPANTURA.COM, YOGYAKARTA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal, menyelenggarakan Capacity Building tahun 2022 yang didalamnya membahas mengenai temuan uang palsu (upal) khususnya di wilayah eks karesidenan Pekalongan.

Acara berlangsung di Hotel Inside By Melia, Yogyakarta, Sabtu (30/7/2022) malam.


Acara Capacity Building tahun 2022, diikuti oleh wartawan eks karesidenan Pekalongan meliputi wilayah Kabupaten Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Batang.


Hadir secara langsung Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, M. Taufik Amrozy, Unit Pelaksanaan Uang Rupiah, Ahmad Afandi, dan Konsultan PUMKM KPwBI Tegal, Mudatsir.


Saat memberikan paparan mengenai temuan uang palsu (upal), Unit Pelaksanaan Uang Rupiah, Ahmad Afandi, menjelaskan sampai tanggal 29 Juli 2022 pihaknya berhasil mendapat laporan mengenai uang palsu sebanyak 802 lembar.


Adapun dari jumlah tersebut, dikatakan Afandi, didominasi laporan dari klarifikasi perbankan.


"Jadi kami membedakan ada empat klarifikasi, yaitu klarifikasi perbankan, masyarakat, kepolisian, dan temuan dari pengolahan.

Sedangkan untuk temuan uang palsu per tanggal 29 Juli 2022 sebanyak 802 lembar," jelas Afandi, pada Tribunjateng.com, Sabtu (30/7/2022) malam.


Sedangkan untuk status temuan upal, lanjut Afandi, sebanyak 752 lembar dari perbankan, kemudian 7 lembar dari klarifikasi masyarakat, sedangkan klarifikasi kepolisian sebanyak 43 lembar, dan klarifikasi pengolahan 0. 


Berkat kedekatan dengan stakeholder perbankan, saling berkoordinasi, Afandi mengaku jumlah temuan uang palsu semakin berkurang atau menurun.


Sementara yang dimaksud klarifikasi dari masyarakat, yaitu ketika masyarakat merasa ragu dengan keaslian uang yang diterima, kemudian mereka melaporkan ke bank.


Kemudian klarifikasi dalam pengolahan, yaitu ketika perbankan menerima setoran, kemudian disetorkan ke Bank Indonesia, ternyata saat penyetoran tersebut ditemukan uang palsu.


Sedangkan klarifikasi perbankan, sesuai namanya maka yang menemukan uang palsu adalah dari perbankan itu sendiri.


"Perlu saya sampaikan, dari tahun 2010-2022 total uang palsu yang kami dapat atau diterima sebanyak 41.363 lembar.

Sedangkan jika dilihat secara periodik tahun, yaitu antara tahun 2020 ke 2021 ada kenaikan uang palsu sebanyak 34 persen.

Tapi saat tahun 2021 ke 2022, mengalami penurunan sekitar 65 persen," pungkasnya.

Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved