Berita Kudus

Polres Kudus Ungkap Peredaran Uang Palsu, Pelaku Beli Lewat Marketplace

Kepolisian Resor (Polres) Kudus mengungkap kasus peredaran uang palsu (Upal) senilai Rp 6,5 juta pecahan Rp 50 ribu.

Penulis: raka f pujangga | Editor: m zaenal arifin
TribunPantura.com/Raka F Pujangga
‎Kasat Reskrim Polres Kudus, AKP Agustinus David menunjukkan barang bukti berupa uang palsu (Upal) senilai Rp 6,5 juta pecahan Rp 50 ribu sebanyak 130 lembar, di Mapolres Kudus, Senin (8/8/2022). 

TRIBUNPANTURA.COM, KUDUS - Kepolisian Resor (Polres) Kudus mengungkap kasus peredaran uang palsu (Upal) senilai Rp 6,5 juta pecahan Rp 50 ribu.

Kasus itu bermula ketika Reza Aditya, warga Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus yang melaporkan temuan uang palsu‎ pada 29 Juli 2022 lalu.

Saat itu korban bertransaksi ponsel tersebut dengan tersangka, M Jamiludin, warga Rogomulyo, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati di SPBU Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, sekitar pukul 19.00, pada hari Kamis (28/7/2022)‎.

‎Menurut Kasat Reskrim Polres Kudus, AKP Agustinus David menjelaskan, korban menyadari uang yang dibayarkan untuk ponsel yang dijualnya palsu setelah melihat nomor serinya sama 302282287‎.

"Sebagian uang yang dibayarkan pelaku ini palsu ketahuan setelah nomor serinya sama semua," ujarnya, saat konferensi pers di Mapolres Kudus, Senin (8/8/2022).

Dari uang yang diterima korban sebesar Rp 3,3 juta dari tersangka, sebesar Rp 2,55 juta merupakan uang palsu.

"Uang yang dibayarkan tersangka ini sebagian palsu‎," ujarnya.

Jumlah uang palsu  yang dibayarkan pelaku dengan pecahan Rp 50.000 sebanyak 66 lembar, dimana 15 Iembar uang asli, sedangkan sebanyak 51 lembarnya merupakan uang palsu.

Petugas Kepolisian dari Polres Kudus, kemudian melakukan penyelidikan dan mengamankan pelaku ketika akan menjual kembali ponsel milik korban di SPBU Tanjang turut Desa Langenharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, pada hari Jumat (29/7/2022) sekitar pukul 11.00.

Setelah melakukan penggeledahan di rumah pelaku ditemukan uang pecahan Rp 50.000 yang diduga palsu sebanyak 90 lembar, lima lembar pecahan Rp 50.000 palsu yang belum terpotong sebanyak lima lembar, pecahan uang Rp 20.000 yang diduga palsu sebanyak dua lembar, satu alat pemotong kertas, satu buah alat laminator, dan satu buah ponsel milik pelaku. 

"Kemudian pelaku berikut barang bukti diamankan dan dibawa ke Polres Kudus untuk proses penyidikan lebih lanjut," ujarnya.

Dari keterangan tersangka, pelaku memperoleh uang palsu tersebut dari seseorang yang mengaku bernama Juragan melalui marketplace.

Kemudian tersangka membeli sebesar Rp 2 juta untuk mendapatkan Rp 6,5 juta uang palsu.

Pria yang bernama Juragan itu kemudian mengirimkan lembaran pecahan Rp 50 ribu sebanyak 130 lembar melalui jasa pengiriman ekspres.

"Sampai di rumah belum‎ dipotong-potong, jadi tersangka yang memotong sendiri dan melaminasi hologramnya," kata dia.

M Jamiludin menyampaikan membeli uang palsu itu lewat online dan diantar sampai ‎ke rumahnya.

"Saya beli karena kepepet. Baru saya pakai untuk beli ponsel saja," ujarnya.

‎Atas kasus tersebut, tersangka dijerat pasal 36 ayat 2 dan 3 undang-undang RI nomor 7/2011 tentang mata uang, subsider pasal 245 KUHPidana dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda sampai Rp 50 miliar. (*)

Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved