Berita Slawi

Elliya Minta Masyarakat Kabupaten Tegal Harus Tanggap Bencana

Beberapa hari terakhir, wilayah Kabupaten Tegal diterpa dua kejadian bencana alam angin puting beliung dan tanah longsor.

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
TRIBUN PANTURA/Desta Leila Kartika
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tegal, Elliya Hidayah, saat melakukan sesi wawancara dengan rekan media Rabu (14/9/2022). 

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Beberapa hari terakhir, wilayah Kabupaten Tegal diterpa dua kejadian bencana alam angin puting beliung dan tanah longsor.


Peristiwa yang terjadi di wilayah Kecamatan Pagerbarang dan Jatinegara ini juga bersamaan yaitu pada Selasa (13/9/2022) lalu.


Melihat kondisi tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tegal, Elliya Hidayah, mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada, berhati-hati, dan lebih peka terhadap kondisi di sekitarnya.


Terlebih menurut Elliya, dari sembilan jenis bencana alam yang ada di Indonesia, wilayah Kabupaten Tegal memiliki potensi semua kejadiannya. 


Adapun sembilan jenis bencana alam yang dimaksud yaitu gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, tanah longsor, banjir, banjir bandang, kekeringan, angin puting beliung, dan gelombang pasang atau badai.


"Sehingga saya benar-benar mengimbau kepada masyarakat Kabupaten Tegal untuk selalu waspada, siap kapan pun jika terjadi bencana, atau istilahnya harus tanggap bencana," imbau Elliya, pada Tribunjateng.com, Rabu (14/9/2022).


Mendukung kesiapsiagaan tersebut, Elliya menyebut pihaknya mengadakan pelatihan siap siaga bencana menyasar sekolah-sekolah.


Mulai dari siswa PAUD, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi.


Termasuk merangkul pelaku dunia usaha, masyarakat umum, rekan media, akademisi, dan lain-lain.


"Kami mengajak, merangkul semuanya agar mengawal bersama-sama bagaimana mengatasi bencana alam.

Karena perlu diingat, kalau terjadi bencana tidak hanya mengandalkan BPBD saja, tapi harus dihadapi bersama supaya cepat tertangani," ungkapnya.


Selain itu, BPBD Kabupaten Tegal juga mengadakan pelatihan bagi kepala desa supaya memiliki kemampuan ketanggapsiagaan di tingkat desa.


Sehingga nantinya jika terjadi bencana, tidak melulu kepala desa yang disalahkan atau dipojokkan terkait penanganan bencana maupun bantuannya.


"Nantinya kepala desa diajarkan atau diberitahu bagaimana cara mengatur anggaran dana desa (ADD), untuk menjadi salah satu pendukung mengatasi bencana alam," pungkasnya.

Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved