Berita Jateng

Riswanto Sebut Nelayan Kecil di Jateng Terpaksa Beli BBM ke Tengkulak, Ini Penyebabnya

Dampak kenaikan harga BBM bersubsidi yang dialami oleh nelayan kecil begitu kompleks.

TribunPantura.com/Fajar Bahruddin Achmad
Ketua HNSI Jawa Tengah, Riswanto. 

TRIBUNPANTURA.COM, TEGAL - Dampak kenaikan harga BBM bersubsidi yang dialami oleh nelayan kecil begitu kompleks. 

Paling utama, kenaikan harga BBM bersubsidi tidak diimbangi dengan kenaikan harga ikan di pasaran. 

Tetapi rupanya di beberapa daerah di Jawa Tengah sendiri, masih ada nelayan kecil yang kesulitan membeli BBM solar bersubsidi. 

Akibatnya mereka harus membeli di tengkulak yang harga per liternya bisa mencapai Rp 8.000.

Baca juga: Kejari Kota Semarang Periksa Dua Pimpinan PT Duta Kusuma Teknosa Terkait Kasus Pidana Perpajakan

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Tengah, Riswanto mengatakan, alokasi BBM di Kota Tegal dapat dikatakan aman.

Tetapi ada beberapa daerah lain yang justru kesulitan.

Hal itu dikarenakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di daerah tersebut sudah tidak aktif.

Di antaranya seperti di Mlonggo Kabupaten Jepara, Tayu Kabupaten Pati, Jambean Kabupaten Pekalongan, Sendang Sikucing Kabupaten Kendal.

Baca juga: Ini Karir PNS Iwan Budi, BKPP Kota Semarang Tunggu Keterangan Polisi Putus Status Kepegawaiannya

"Di Jawa Tengah jumlah SPBN itu sekira 42 titik, tapi yang aktif hanya 31 titik."

"Nah itu menjadi perhatian dan catatan khusus," kata Riswanto, Jumat (16/9/2022).

Riswanto berharap, pemerintah bisa hadir untuk memudahkan nelayan mendapat akses membeli BBM bersubsidi. 

Sebab karena kesulitan yang dialami, tidak sedikit yang kemudian membeli BBM solar kepada tengkulak. 

Baca juga: Ini Cara Ganjar Pranowo Melawan Osteoporosis, Rutin Jalan Kaki 2 Jam Tiap Pagi

Dari harga BBM solar bersubsidi yang hanya Rp 6.800 per liter, di tengkulak harganya bisa mencapai Rp 8.000 per liter.

"Ketika tidak mendapatkan akses ke SPBN sebagai penyalur utama, mereka akan membeli solar melalui tengkulak."

"Itulah yang menjadi permasalahan klasik nelayan kecil di lapangan," ungkapnya. (*)

Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved