Berita Slawi

Pagelaran Seni dan Lomba Jingle, Upaya Pemkab Tegal Gempur Rokok Ilegal

Meski sempat diguyur hujan lebat, tidak menyurutkan semangat tiga dalang mendukung gerakan gempur rokok

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
IST
Kepala Diskominfo Kabupaten Tegal, Nurhayati, saat menyerahkan hadiah lomba Tik-Tok pada pagelaran seni tradisional wayang gempur rokok ilegal di Desa Balamoa, Kecamatan Pangkah beberapa waktu lalu.  

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Meski sempat diguyur hujan lebat, tidak menyurutkan semangat tiga dalang mendukung gerakan gempur rokok ilegal lewat pagelaran seni tradisional wayang, termasuk warga penonton. Berlangsung di Desa Balamoa, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal beberapa waktu lalu. 


Ketiga dalang dari genre yang berbeda tersebut, adalah Ki Sri Widodo dalang wayang suket, Ki Haryo Susilo dalang wayang golek, dan Ki Sumardjo dalang wayang wong.


Pagelaran wayang tersebut, difasilitasi Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Tegal, bersama Kantor Bea dan Cukai Tegal. 


Kepala Diskominfo Kabupaten Tegal, Nurhayati, mengatakan kebiasaan merokok memiliki dampak yang kurang baik bagi kesehatan tubuh, namun faktanya tidak sedikit dari masyarakat yang masih mengonsumsinya dengan berbagai alasan dan tujuan.


Tingkat konsumsi rokok yang cukup tinggi ini menjadi peluang pasar tersendiri, termasuk mereka yang ingin mendulang keuntungan lebih dari menjual rokok ilegal tanpa melalui prosedur yang benar.


“Penjualan rokok yang tidak dibenarkan salah satunya tidak melekatinya dengan pita cukai atau memalsukan pita cukai, menggunakan pita cukai bekas, ataupun cukainya tidak sesuai dengan personalisasi dan peruntukannya," jelas Nurhayati, dalam rilis yang diterima Tribunjateng.com, Kamis (24/11/2022). 


Menurutnya, peredaran rokok ilegal ini tidak saja mengancam kesehatan masyarakat, karena kandungan nikotinnya yang tinggi dan proses produksinya yang tidak sesuai standar kesehatan. 


Harga jualnya yang murah akan memicu persaingan usaha yang tidak sehat, disamping menggerus penerimaan negara.


Terlebih, di tengah kondisi inflasi dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, ditengarai peredaran rokok ilegal semakin marak. 


“Berbeda dengan rokok pabrikan resmi dan terdaftar, pasti sudah dilakukan pengukuran kadar nikotin serta pengontrolan kualitas melalui proses laboratorium,” ujarnya.


Nurhayati menambahkan, hasil penerimaan cukai ini dikelola oleh negara, lalu dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT). 


Dimana salah satu terbesarnya adalah untuk mendanai bantuan iuran jaminan kesehatan BPJS kesehatan bagi keluarga miskin


Selain itu, DBHCHT juga dialokasikan untuk mendanai program pembinaan lingkungan sosial di bidang ketenagakerjaan, lingkungan hidup, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga infrastruktur.


Disini, pihaknya pun mengajak seluruh elemen masyarakat ikut berperan aktif mencegah peredaran rokok ilegal. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved