Berita Slawi

Polres Tegal Beri Pemahaman Dasar Wawasan Kebangsaan ke Santriwati Pondok Pesantren Daarul Atqiyaa

Kapolres Tegal, AKBP Arie Prastya Syafa’at,  diwakili Wakapolres Tegal, Kompol Didi Dewantoro, menjadi narasumber

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
IST
Sarasehan Kebangsaan Generasi Muda Indonesia yang diselenggarakan Pondok Pesantren Daarul Atqiyaa', beralamat di Desa Kertayasa, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal belum lama ini. Dalam kegiatan tersebut, juga dilaksanakan deklarasi dan penandatanganan ikrar setia pada Pancasila dan NKRI, oleh pihak Ponpes beserta seluruh Santriwati sebanyak 304 siswa.  

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Kapolres Tegal, AKBP Arie Prastya Syafa’at,  diwakili Wakapolres Tegal, Kompol Didi Dewantoro, menjadi narasumber Sarasehan Kebangsaan Generasi Muda Indonesia yang diselenggarakan Pondok Pesantren Daarul Atqiyaa', beralamat di Desa Kertayasa, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal belum lama ini. 
 
Kegiatan tersebut mengusung tema "Generasi muda Indonesia dan perannya dalam rangka meningkatkan semangat nasionalisme guna mencegah intoleransi dan radikakisme." 

 

Selain dihadiri oleh Wakapolres Tegal, kegiatan kali ini juga turut mengundang unsur Forkompinda, Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tegal, pemerintah desa dan pihak pondok pesantren (Ponpes). 


Selain berdiskusi mengenai kebangsaan, pada acara yang sama juga berlangsung deklarasi dan penandatanganan ikrar setia pada Pancasila dan NKRI, oleh pihak Ponpes beserta seluruh Santriwati sebanyak 304 siswa. 


Kapolres Tegal melalui Kompol Didi Dewantoro, menyampaikan pandangan dan pemahaman mendasar kepada  yayasan maupun santriwati. 


"Wawasan kebangsaan sangat diperlukan dalam diri para pemuda dalam rangka membangun dan menjaga keutuhan NKRI, dengan empat konsensus dasar bangsa yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika," ujar Kompol Didi, dalam rilis yang diterima Tribunjateng.com, Minggu (27/11/2022). 


Faktor penyebab generasi muda terpapar paham atau aliran radikalisme, lanjut Wakapolres, di antaranya pemahaman yang keliru atau sempit tentang agama, ketidakadilan sosial, dendam politik, dan kesenjangan ekonomi. 


Sehingga strategi untuk mencegah intoleran dan radikalisme, menurut Kompol Didi bisa dengan cara memperkuat ideologi bangsa, perkuat islam moderat, dan pemahaman agama yang benar. 


Selain itu, pemahaman mendalam terhadap radikalisme yang ada di Indonesia, dan sinergitas aparat pemerintah dengan pemimpin-pemimpin islam, guna mencegah faham radikal. 


"Semua unsur harus saling membantu dalam memberikan pemahaman mengenai ideologi bangsa, agama, dan lain-lain terutama pada generasi muda. Sehingga diharapkan tidak ada lagi yang mengarah ke sikap intoleran dan radikalisme," imbaunya. 


Sementara itu dalam sambutanya, Ketua Yayasan Ponpes Daarul Atqiyaa', Umar Zamhari, mengucapkan terimakasih kepada Polres Tegal dan Forkompinda Kabupaten Tegal yang telah bekerjasama dengan yayasan. 


"Mudah-mudahan kegiatan sarasehan ini, adalah bentuk sinergitas dan kerjasama yang berkelanjutan antara kami dengan pemerintah demi keutuhan NKRI," pungkasnya.

Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved