Berita Slawi

Kena PHK saat Pandemi, Pemuda Asal Tegal Ini Pilih Teruskan Usaha Pandai Besi Cangkul Milik Keluarga

Abdul Yasin Hidayatullah, merupakan salah satu pemuda asal Bumijawa yang setahun terakhir menekuni usaha pandai besi cangkul.

Dokumentasi
Abdul Yasin Hidayatullah atau yang memiliki sapaan Yayat (22), sedang membuat cangkul di bengkel rumahnya beralamat di Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal belum lama ini. 

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Di era modernisasi dan kecanggihan teknologi seperti saat ini, sebagian masyarakat Indonesia masih mempertahankan keahlian dan keterampilan menempa besi secara tradisional, kemudian membuat alat-alat pertanian seperti cangkul.

Hal tersebut, bisa ditemukan jika berkunjung ke Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah karena sampai saat ini masih dikenal sebagai salah satu sentra industri pandai besi.

Bahkan, keahlian dan ketrampilan menempa besi secara tradisional ini, diwariskan turun temurun dari orangtua ke anak sampai keturunan selanjutnya.

Abdul Yasin Hidayatullah, merupakan salah satu pemuda asal Bumijawa yang setahun terakhir menekuni usaha pandai besi cangkul.

Baca juga: Diskominfo Kabupaten Tegal Ingatkan Pentingnya Keamanan Data Pribadi

Pria berusia 22 tahun ini, meneruskan usaha milik keluarganya yang sudah ada sejak tahun 1980an, dengan produk utama alat pertanian seperti cangkul.

Yayat sapaan akrabnya, merupakan generasi ketiga yang melanjutkan usaha pandai besi, meskipun industri tersebut semakin jarang dan berkurang peminatnya.

"Sebelum memutuskan menggeluti usaha pandai besi milik keluarga, saya pernah merantau ke Jakarta. Tapi karena pandemi Covid-19, saya terkena PHK kemudian memilih pulang kampung."

"Dari pada bingung mau kerja apa, ya akhirnya meneruskan usaha keluarga saja supaya tidak punah dimakan zaman," ungkap Yayat, Senin (28/11/2022).

Baca juga: Korea Selatan vs Ghana, Ksatria Taeguk Punya Peluang Besar, Catatan Lima Laga Terakhir Kedua Tim

Sempat terdampak pandemi Covid-19 karena omzet penjualan cangkul mengalami penurunan sangat drastis, Yayat bahkan mengaku usahanya nyaris bangkrut karena minat yang turun dan sulit memasarkan produknya.

Tidak ingin menyerah dengan keadaan, Yayat berusaha semaksimal mungkin supaya kualitas produk cangkul miliknya tetap terjaga.

Sehingga pelanggan yang biasa membeli di tempatnya tidak berpaling, dan usaha yang dikelola tetap eksis dari era 80an sampai saat ini.

Karena menurutnya, kunci utama mempertahankan usaha hingga saat ini adalah menjaga kualitas produk.

Baca juga: Tanah Longsor Terjadi di Purbalingga, Jalan Penghubung Dua Desa Tertutup Material

"Saya mengerjakan sendiri tapi kadang orangtua masih membantu."

"Setiap harinya bisa menghasilkan puluhan buah cangkul, bergantung pesanan atau proyek yang sedang dikerjakan."

Halaman
12
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved