Berita Slawi

Sekda Kabupaten Tegal Ingatkan Pentingnya Penguatan Spirit Kebangsaan Dalam Kehidupan Beragama

Penguatan identitas keagamaan dan penguatan identitas kebangsaan tidak boleh dipisahkan, apalagi sampai dipertentangkan. 

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
IST
Sekretaris Daerah Kabupaten Tegal, Widodo Joko Mulyono, saat memberikan sambutan di acara tasyakuran peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-77 Kementerian Agama RI tingkat Kabupaten Tegal, di GOR Trisanja Slawi beberapa waktu lalu.  

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI – Penguatan identitas keagamaan dan penguatan identitas kebangsaan tidak boleh dipisahkan, apalagi sampai dipertentangkan. 


Pernyataan ini, disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Tegal, Widodo Joko Mulyono, pada acara tasyakuran peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-77 Kementerian Agama RI tingkat Kabupaten Tegal di GOR Trisanja Slawi beberapa waktu lalu. 


Joko mengatakan, penguatan identitas keagamaan jika dipisahkan dari spirit berbangsa dan bernegara, akan melahirkan radikalisme beragama. 


Sebaliknya, penguatan identitas berbangsa dan bernegara jika dipisahkan dari spirit beragama menjadi peluang sekularisme dan liberalisme.


“Agama dan negara ini saling membutuhkan, saling mengokohkan untuk kebahagiaan hidup umat manusia,” kata Joko, dalam rilis yang diterima Tribunjateng.com, Rabu (11/1/2023). 


Insiden warga Cilebut, Bogor yang melarang perayaan ibadah Natal di rumah seorang warga beberapa waktu lalu, dan kesulitan sejumlah kelompok minoritas memperoleh izin membangun rumah ibadahnya, dikatakan Joko adalah fenomena masih adanya potensi konflik dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia.


“Ini tidak hanya jadi PR Kementerian Agama saja, tapi tanggung jawab kita bersama dalam membangun peradaban cinta kasih yang menyatukan kehidupan bangsa ini, dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila secara nyata,” ujarnya. 


Kementerian Agama, lanjut Joko,  memiliki tugas memoderasi kehidupan beragama di tengah tantangan menguatnya identitas keagamaan kelompok masyarakat tertentu, terlepas dan menjauh dari koridor nilai-nilai kebangsaan, falsafah Pancasila yang mempersatukan bhineka tunggal ika. 


Kemajuan teknologi internet dan media sosial menjadi tantangan berat setiap elemen bangsa dalam menjaga kerukunan antarumat beragama, dan mencegah keterbelahan antar umat. 


Sebab di era digital society 5.0 ini, setiap orang bisa dengan mudah membuat konten dan mengunggahnya ke platform media sosial, disaksikan ribuan bahkan jutaan pemirsanya.


Namun demikian, menurut Joko tidak semua konten ataupun informasi yang diunggah ini layak dijadikan referensi ataupun literasi yang memajukan dan mencerahkan kehidupan bangsa. 


Ada konten-konten tertentu yang terindikasi kuat memecah-belah kehidupan rukun antar umat beragama, atau bahkan dalam satu agama itu sendiri hanya karena perbedaan madzab, perbedaan aliran.


Hal tersebut, sesungguhnya telah diantisipasi pendiri negara melalui rumusan konstitusi UUD 1945, dengan memformulasikan bentuk negara Indonesia sebagai negara kesatuan, dan Pancasila sebagai dasar negaranya.


“Konstruksi kenegaraan ini sudah final dan sudah teruji lewat serangkaian peristiwa bersejarah seperti pemberontakan PKI, PRRI Permesta, DI/TII, GAM hingga KKB Papua,” ungkap Joko. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved