Rabu, 13 Mei 2026

Berita Kendal

Tradisi Buka Puasa Bubur Lodeh di Masjid Agung Kendal, Ada Sejak Zaman Jepang

Di Masjid Agung Kendal, ada sebuah tradisi buka puasa yang masih dipertahankan turun temurun sejak zaman penjajahan Jepang.

Tayang:
Penulis: Saiful Masum | Editor: m zaenal arifin
TribunPantura.com/Saiful Masum
Masyarakat menikmati buka puasa dengan menu Bubur Lodeh di Masjid Agung Kendal, kemarin. 

TRIBUNPANTURA.COM, KENDAL - Di Masjid Agung Kendal, ada sebuah tradisi buka puasa yang masih dipertahankan turun temurun sejak zaman penjajahan Jepang.

Yaitu tradisi menyantap Bubur Lodeh sebagai hidangan pembuka buka puasa.

Tradisi ini dipelihara dengan baik oleh pihak Takmir Masjid Agung Kendal selama berpuluh-puluh tahun.

Bahkan saat ini, jumlah paket bubur lodeh yang dibagikan kepada jemaah masjid mencapai 150 bungkus per hari.

Utamanya dibagikan kepada warga yang mengikuti kajian keagamaan setiap menjelang buka puasa, dan masyarakat yang menunaikan ibadah salat Maghrib di Masjid Agung Kendal.

Bubur Lodeh dipilih karena terbuat dari olahan bahan yang sederhana.

Terdiri dari beras yang dimasak menjadi bubur, dilengkapi dengan sayur lodeh dan kerupuk.

Tidak ada embel-embel lauk lainnya, dalam paket bubur lodeh ini.

Bubur Lodeh
Bubur Lodeh, menu khas tradisi buka puasa di Masjid Agung Kendal.

Koordinator tim takjil Masjid Agung Kendal, Pujiato (65) mengatakan, tradisi bubur lodeh sudah ada sejak zaman oenjajahan Jepang.

Saat itu, kondisi masyarakat sekitar Kendal, khususnya di sekitar masjid dalam keadaan susah dijajah Jepang.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari pun sulit, harus rela mencari umbi-umbian dan sayuran seadanya untuk menyambung hidup setiap harinya.

Atas kondisi itu, pihak manajemen Masjid Agung Kendal membuat sebuah bubur untuk dibagikan kepada masyarakat sepanjang Ramadan.

Tujuannya untuk membantu masyarakat, termasuk para musafir agar bisa berbuka puasa tepat pada waktunya.

Bubur tersebut disajikan dengan lauk sederhana berupa sayur lodeh.

Sebuah sayur yang dibuat dari bahan Kluwih, yang dipetik dari ladang milik masyarakat sekitar.

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved