Rabu, 22 April 2026

Berkah Musim Kemarau Produksi Naik 100 Persen, Perajin Batu Bata di Pekalongan: Alhamdulillah

Produksi Naik 100 Persen, Berkah Musim Kemarau bagi Perajin Batu Bata di Pekalongan: Alhamdulillah

tribun-pantura.com/indro dwi purnomo
Perajin batu bata merah di Desa Kebonrowopucang, Kabupaten Pekalongan, saat melukan proses produksi pencetakan batu bata merah. Musim kemarau yang panas menjadi berkah bagi para perajin batu bata, sebab mereka bisa menggenjot produksi hingga 100 persen. 

TRIBUNPANTURA.COM, KAJEN - Datangnya musim kemarau menjadi berkah bagi perajin batu bata yang ada di Desa Kebonrowopucang, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Sebab, jika pada musim hujan pembuatan batu bata merah membutuhkan waktu lebih dari satu minggu.

Sedangkan, pada musim kemarau seperti ini prosesnya hanya tiga hingga empat hari, sebelum akhirnya dibakar.

Sofan Hadi (58) perajin batu bata merah mengaku produksi bisa meningkat 100 persen lebih.

"Alhamdulillah mas, kemarau menjadi berkah kami saat produksi batu bata merah," kata Sofan kepada Tribunjateng.com, Selasa (11/8/2020) siang.

Ia mengungkapkan, di musim kemarau dalam sehari dirinya bisa memproduksi 3.000 batu bata merah.

Sedangkan musim penghujan hanya bisa memproduksi sekitar 1.000 sampai 1.200 batu bata.

Kemudian, untuk proses pembuatannya sendiri sangatlah mudah. Tanah liat yang sudah dicampur sekam, dicampur air secukupnya lalu aduk sampai merata dan cetak.

"Batu bata yang sudah jadi ditumpuk di tempat pembakaran, yang membedakan dengan batu bata merah yang lain itu kualitasnya."

"Lalu untuk harga perbata sendiri dijual Rp 600 rupiah."

"Alhamdulillah, banyak pemborong yang ada di wilayah Pekalongan dan toko bangunan banyak yang menyukai produksi kami," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kebonrowopucang Slamet Nurudin mengatakan, dari data yang ada di Desa Kebonrowopucang ada 300 kepala keluarga yang memproduksi batu bata merah.

"Dari 300 KK itu, ada 100 unit gardu atau tempat pembuatan batu bata merah."

"Kalau total produksi dikalikan saja, satu unit gardu bisa produksi 1.500 batu bata kali 100 gardu, total ada 150.000 produksi batu bata," kata Slamet.

Pihaknya juga mengungkapkan, kenapa desa ini dijuluki sentra produksi batu bata karena dulu desa ini kesulitan mendapatkan air bersih saat kemarau dan tidak adanya irigasi.

"Sekitar 20 tahun yang lalu desa ini tidak ada irigasi dan tanah hanya bisa ditanami padi setahun sekali."

"Makanya, dulu warga usaha batu bata ini dengan tujuan untuk meratakan tanah. Harapannya, kedepan bisa dijadikan tanah untuk produktif untuk pertanian."

Pihaknya menambahkan, adanya perajin batu bata merah ini sangat membantu sekali perekonomian warga Desa Kebonrowopucang. (dro)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved