Life Style
Cara Meluruskan 8 Perilaku Buruk pada Anak
Ada saatnya di mana mereka memiliki perilaku yang berpotensi mengganggu, bahkan membuat kita panik.
TRIBUN-PANTURA.COM, SEMARANG - Mengasuh anak-anak secara efektif tidaklah mudah.
Ada saatnya di mana mereka memiliki perilaku yang berpotensi mengganggu, bahkan membuat kita panik.
Misalnya, menolak untuk menyikat gigi sebelum tidur atau lambat memakai sepatu ketika hendak pergi ke luar rumah.
Masalah perilaku ini mungkin tidak membahayakan sekarang.
Tetapi, kebiasaan yang kurang baik itu akan menghambat perkembangan dan kesejahteraan anak-anak.
Baca juga: RS Penuh, Pemerintah Tak Kunjung Bayar Klaim Pelayanan Kesehatan Pasien Covid, Pandemi Kian Kritis
Baca juga: Kecelakaan Tabrak Lari di Depan SPBU Kalibanteng Semarang, Korban Tergeletak di Jalan
Baca juga: Harga Emas Antam di Semarang Selasa 26 Januari 2021, Berikut Daftar Lengkapnya
Baca juga: Jadwal dan Formasi CPNS 2021, Diperkirakan Lebih Besar Dari Penerimaan 2019
Oleh sebab itu, untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana menanganinya, simak delapan masalah perilaku sederhana anak-anak yang tidak boleh diabaikan berikut ini.
1. Melebih-lebihkan cerita atau berbohong
Anak-anak bisa saja mengungkapkan cerita yang dilebih-lebihkan untuk menjelaskan sesuatu yang mereka alami.
Hal tersebut biasanya dilakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau pergi dari sesuatu yang mereka tidak ingin, atau untuk menghindari hukuman.
Anak-anak juga berbohong sebagai cara untuk mengeksplorasi sebab dan akibat. Mereka mungkin penasaran untuk melihat apa yang terjadi ketika memutar cerita.
Menurut seorang manajer layanan di Kinderhey Centers, Tauny Banta, penting bagi orangtua bertindak dan membantu anak-anak mengembangkan kebiasaan untuk berkata jujur.
Selain tidak pantas secara sosial, berbohong dapat membuat anak-anak tumbuh tanpa memahami makna dari konsekuensi dan hal tersebut menempatkan mereka dalam bahaya.
Banta menyarankan kita supaya memahami motivasi anak-anak. Kita juga harus memberikan pengertian, bahwa kebohongan akan memiliki dampak yang harus diterima.
2. Menginterupsi
Banyak orangtua yang membiarkan anak menginterupsi karena rasa sayang atau merasa kasihan. Tetapi, kebiasaan memotong pembicaraan dapat berdampak negatif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pantura/foto/bank/originals/ilustrasi-kekerasan-seksual-atau-pencabulan-anak-di-bawah-umur.jpg)