Senin, 13 April 2026

Life Style

Cara Meluruskan 8 Perilaku Buruk pada Anak

Ada saatnya di mana mereka memiliki perilaku yang berpotensi mengganggu, bahkan membuat kita panik.

Editor: Rival Almanaf
kompas.com
Ilustrasi kekerasan seksual atau pencabulan anak di bawah umur 

TRIBUN-PANTURA.COM, SEMARANG - Mengasuh anak-anak secara efektif tidaklah mudah.

Ada saatnya di mana mereka memiliki perilaku yang berpotensi mengganggu, bahkan membuat kita panik.

Misalnya, menolak untuk menyikat gigi sebelum tidur atau lambat memakai sepatu ketika hendak pergi ke luar rumah.

Masalah perilaku ini mungkin tidak membahayakan sekarang.

Tetapi, kebiasaan yang kurang baik itu akan menghambat perkembangan dan kesejahteraan anak-anak.

Baca juga: RS Penuh, Pemerintah Tak Kunjung Bayar Klaim Pelayanan Kesehatan Pasien Covid, Pandemi Kian Kritis

Baca juga: Kecelakaan Tabrak Lari di Depan SPBU Kalibanteng Semarang, Korban Tergeletak di Jalan

Baca juga: Harga Emas Antam di Semarang Selasa 26 Januari 2021, Berikut Daftar Lengkapnya

Baca juga: Jadwal dan Formasi CPNS 2021, Diperkirakan Lebih Besar Dari Penerimaan 2019

Oleh sebab itu, untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana menanganinya, simak delapan masalah perilaku sederhana anak-anak yang tidak boleh diabaikan berikut ini.

1. Melebih-lebihkan cerita atau berbohong

Anak-anak bisa saja mengungkapkan cerita yang dilebih-lebihkan untuk menjelaskan sesuatu yang mereka alami.

Hal tersebut biasanya dilakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau pergi dari sesuatu yang mereka tidak ingin, atau untuk menghindari hukuman.

Anak-anak juga berbohong sebagai cara untuk mengeksplorasi sebab dan akibat. Mereka mungkin penasaran untuk melihat apa yang terjadi ketika memutar cerita.

Menurut seorang manajer layanan di Kinderhey Centers, Tauny Banta, penting bagi orangtua bertindak dan  membantu anak-anak mengembangkan kebiasaan untuk berkata jujur.

Selain tidak pantas secara sosial, berbohong dapat membuat anak-anak tumbuh tanpa memahami makna dari konsekuensi dan hal tersebut menempatkan mereka dalam bahaya.

Banta menyarankan kita supaya memahami motivasi anak-anak. Kita juga harus memberikan pengertian, bahwa kebohongan akan memiliki dampak yang harus diterima.

2. Menginterupsi

Banyak orangtua yang membiarkan anak menginterupsi karena rasa sayang atau merasa kasihan. Tetapi, kebiasaan memotong pembicaraan dapat berdampak negatif.

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved