Berita Jateng

Terkait Penanganan Kemiskinan Ekstrem di Jateng, Ini Kata Wakil Ketua DPRD Heri Pudyatmoko

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko mengatakan, butuh strategi jitu guna mengatasi kemiskinan ekstrem ini.

Penulis: hermawan Endra | Editor: m zaenal arifin
Dokumentasi
Wakil Ketua DPRD Heri Pudyatmoko 

 

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Pemerintah memiliki target untuk menghilangkan kemiskinan ekstrem pada akhir tahun 2024.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko mengatakan, butuh strategi jitu guna mengatasi kemiskinan ekstrem ini. Strategi yang diperlukan adalah penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Termasuk penguatan data terkait jumlah masyarakat miskin secara akurat. Data beserta variabelnya diperlukan, guna mengetahui secara detail tentang kondisi riil di daerah.

"Maka data tentang jumlah warga miskin beserta variabelnya harus diperbaharui di tingkat daerah. Ini penting ketika kita bicara soal kemiskinan. Jangan sampai data tidak tepat, sehingga penanganannya pun tak bisa tepat sasaran pula," katanya, Selasa (24/1/2023).

Pemprov Jateng juga perlu perbaikan data warga miskin, sehingga penyaluran bantuan langsung bisa tepat sasaran. Perbaikan dan sinkronisasi data di daerah dan pemerintah pusat perlu diperbaharui, agar data menjadi lebih mutakhir dan akurat.

“Kami berharap agar perbaikan data terus dilakukan, sehingga untuk pelaksanaan program-program sampai tahun 2024, kita dapat menggunakan data rumah tangga miskin ekstrem yang lebih mutakhir dan akurat di tiap daerah, bahkan menyentuh hingga level RT-RW,” tegasnya.

Untuk strategi jangka menengah, diperlukan analisis kebutuhan program percepatan penanggulangan ekstrem yang diperlukan.

Analisis tersebut dapat diselaraskan dengan program dari pemerintah pusat, sehingga seluruhnya dapat terkonvergensi dengan baik dan memberikan manfaat yang maksimal untuk masyarakat.

“Tak kalah penting adalah upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Persoalan kemiskinan ini tak bisa hanya diatasi dengan cara manajemen top-down, tapi bisa digarap juga dengan pemberdayaan di tingkat bawah, atau masyarakat. Perlu ada pendampingan atau pelatihan dalam pemberdayaan usaha masyarakat, termasuk juga upaya menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat desa atau bahkan RT dan RW,” tuturnya.

“Prinsipnya, adalah pola gotong royong yang melibatkan banyak pihak. Masyarakat sendiri, pemerintah, swasta, dan yang pasti soal data. Cara gotong-royong diyakini mampu menyelesaikan kemiskinan ekstrem di Jawa Tengah,” tambahnya.

Sedangkan untuk strategi jangka panjang, adalah perbaikan pelayanan masyarakat. Seperti perbaikan sistem pendidikan di daerah, sistem kesehatan, dan penyediaan infratsruktur sebagai akses ekonomi masyarakat.

“Karena tak dapat dipungkiri bahwa kemiskinan di Jawa Tengah tak lepas dari dari persoalan akses kesehatan, askes pendidikan, dan akses ekonomi. Ini yang harus diperhatikan dalam proses pembangunan daerah. Pemerataan pembangunan, termasuk perbaikan sistem baik kesehatan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat akan sangat membantu dalam upaya mengatasi persoalan kemiskinan ekstrem ini,” paparnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2021, total jumlah penduduk miskin ekstrem di Jawa Tengah mencapai 581.968 jiwa. Ada lima daerah yang mendesak untuk penanganan karena angkanya sangat tinggi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved