Selasa, 19 Mei 2026

Berita Jateng

Mashudi Sebut Pesanan Alat Bakar Sate Meningkat Jelang Iduladha

Tradisi masyarakat saat perayaan Iduladha biasanya memasak hewan kurban bersama-sama seperti olahan gulai

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: muh radlis
TRIBUNMURIA/Rezanda Akbar D
Mashudi (69) saat menbuat alat bakaran sate untuk dipasarkan selama Iduladha ini di Kudus, Pati, Jepara, Rembang 

TRIBUNPANTURA.COM, KUDUS — Tradisi masyarakat saat perayaan Iduladha biasanya memasak hewan kurban bersama-sama seperti olahan gulai, tongseng, ataupun satai/sate.


Tradisi menyatai hewan kurban seolah menjadi tradisi rutin tahunan tiap iduladha.

Para warga mengolah daging hewan kurban untuk disatai bersama keluarga, saudara ataupun rekan.


Munculnya tradisi itu membawa berkah bagi pembuat bakaran sate di Kabupaten Kudus.

Sejak pagi, Mashudi (69) disibukan membentuk lempengan aluminium untuk dijadikan wadah bakaran satai.


Ada dua bentuk yang Mashudi buat, yakni bakaran satai berbentuk persegi panjang dan anglo.


"Mulai mengerjakan ini ramainya itu bulan apit, atau bulan sebelum besaran.

Kalau saya sehari bisa bikin 30 biji.

Dikerjakan sendiri," ucap pria yang akrab disapa Bongeng, Selasa (27/6/2023).


Hasil tempat bakaran satai yang dia buat, biasanya diambil oleh para tengkulak.

Dia menjual satu tempat bakaran satai yang berbentuk panjang seharga Rp8ribu.


"Kalau yang bakaran biasa persegi panjang yang kecil diambil sama tengkulak. Nanti dia jual sampai Rp15ribuan, kalau semakin besar ukurannya ya semakin mahal," katanya.


Bakaran yang dia jual, sampai pasaran Kudus, Pati, Jepara, Rembang.

Bogeng sendiri sudah mengerjakan bakaran ini sampai 10tahun lamanya.


"Kurban ini saya sudah buat 400an dan terus mengerjakan, biasanya sesudah Iduladha itu masih ramai.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved