Nelangsa Nasib Perajin Piala di Kudus, Tak Ada Pesanan Jelang HUT Kemerdekaan RI: Biasanya Panen

Nelangsa Nasib Perajin Piala di Kudus, Tak Ada Pesanan Jelang HUT Kemerdekaan RI: Biasanya Panen

Tribunpantura.com/Raka F Pujangga
Al Trophy memajang sejumlah piala di Dukuh Ledok, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Rabu (12/8/2020). Sejak Maret hingga kini, piala-piala itu menganggur, tidak ada pesanan dari konsumen. 

TRIBUNPANTURA.COM, KUDUS - Sebelum pandemi Covid-19, hari-hari menjelang hari ulang tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, adalah waktunya panen bagi para perajin piala.

Namun, di tengah pandemi corona ini, nasib nelangsa dialami para perajin piala.

Sejumlah perajin piala di Kabupaten Kudus misalnya. Mereka terpaksa gigit jari menjelang Hari Kemerdekaan ke 75 Republik Indonesia.

‎Jika biasanya pada bulan Juli sudah banyak pesanan piala, tidak pada perayaan Hari Kemerdekaan kali ini.

Satu di antaranya UD Karya Usaha yang berada di Dukuh Ledok, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Pemilik UD Karya Usaha, M Jafar menceritakan, jika penjualan piala dan plakat sangat sulit di tengah pandemi ini.

Bahkan, kata dia, sejak bulan Maret 2020 itu tidak mendapatkan pesanan sama sekali dari kliennya.

"Biasanya pertengahan tahun itu banyak pesanan piala dan plakat untuk Hari Kemerdekaan, Tahun Ajaran Baru, dan Popda (Pekan Olahraga Pelajar Daerah-red)‎. Tapi sekarang tidak ada sama sekali," jelas dia, Rabu (12/8/2020).

Jafar mengatakan, jelang momentum Hari Kemerdekaan biasanya memperoleh pesanan sedikitnya 80-100 buah piala.

Dia juga menyiapkan stok piala, karena tingginya permintaan tersebut. Namun selama pandemi ini, dia tidak berani menyimpan stok karena khawatir tidak laku.

"Biasanya saya stok, karena bulan Juli sudah masuk orderan. Karena sampai sekarang sepi ini saya nggak punya stok," ujar dia.

Pesanan, kata dia, justru datang dari lembaga pendidikan yang akan menggelar wisuda siswanya.

Itu pun, bukan berasal dari daerah sekitar Kabupaten Kudus. Namun datang dari Kalimantan.

"Baru sekarang ini saya ada pesanan untuk wisuda dari perguruan tinggi di Kalimantan. Sebelumnya sepi nggak ada orderan," jelas dia.

Dia berharap, Covid-19 ini bisa segera stabil dan pe‎rekonomian masyarakat kecil dapat pulih kembali.

"Saya harapannya bisa pulih lagi, virus corona segera hilang jadi aktivitas normal kembali," ujar dia.

Perkampungan yang juga ‎dikenal sebagai Kampung Piala ‎karena banyak masyarakatnya yang menjadi perajin piala itu sangat berdampak.

Satu di antaranya, Pemilik Al Trophy, Luki Hermawan‎, mengatakan, kesulitannya menawarkan jasa pembuatan piala di tengah pandemi.

"Kegiatan tidak ada, jadi yang pesan piala dan plakat itu nol. Nggak ada sama sekali. Terakhir pesanan Februari 2020," jelasnya.

Sampai sekarang sudah lima bulan dia tidak memperoleh penghasilan, terpaksa membanting stir usahanya.

Jika limbah plastik semula dibuat menjadi ‎piala, kini dia memanfaatkan limbah tersebut untuk pengolahan mangkok plastik di Semarang.

Biarpun hasilnya tidak lebih baik dari penjualan pialanya, dia mengucapkan rasa syukur masih bisa memperoleh penghasilan.

"‎Saya jual limbah plastik ini Rp 5.000 per kilogram, keuntungannya sama jualan piala lebih rendah. Tapi lumayan bisa untuk menyambung hidup," jelas dia.

Padahal biasanya pada saat pertengahan tahun ini bisa mendapatkan pesanan mencapai 10 dus untuk piala dan plakatnya.

Kebanyakan, kata dia, pesanan kliennya adalah piala menjelang Hari Kemerdekaan‎ seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Biasanya kebanyakan piala pesannya sebanyak empat sampai enam dus. Tapi karena Covid tidak ada pesanan, modal juga nggak bisa muter," jelasnya.

Adapun harga piala yang dijual di sana berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 350 ribu tergantung ukuran. (raf)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved