Berita Tegal

Survei New Normal di Kabupaten Tegal, Masyarakat Susah Bernafas Saat Menggunakan Masker

Sikap publik ini terekam lewat hasil jajak pendapat Humas Pemkab Tegal secara daring, pada 21-31 Juli 2020 lalu yang melibatkan 477 responden.

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: Rival Almanaf
Istimewa
Tim Penggerak PKK Kota Tegal bersama Polwan membagikan masker kepada masyarakat di kawasan Alun-alun Kota Tegal, Senin (17/8/2020). 

TRIBUN-PANTURA.COM, SLAWI - Upaya mencegah penyebaran wabah Covid-19 akibat virus corona, sangat dipengaruhi oleh kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mengenakan masker, dan mencuci tangan dengan sabun.

Seruan pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan sebagai standar perilaku hidup bersih dan sehat di era normal baru direspon beragam oleh masyarakat.

Mayoritas publik meyakini penerapan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin mampu mencegah penularan Covid-19.

BPJS Ketenagakerjaan Telah Serahkan Rekening Calon Penerima Bantuan Subsidi Upah, Kapan Cair?

Jadwal Pelayanan Samsat Keliling Kabupaten Batang, Selasa 25 Agustus 2020

Berikut jadwal Samsat online keliling atau Samsat siaga di Kabupaten Tegal, Selasa (25/8/2020)

Sikap publik ini terekam lewat hasil jajak pendapat Humas Pemkab Tegal secara daring, pada 21-31 Juli 2020 lalu yang melibatkan 477 responden.

Keyakinan ini diungkapkan oleh 82,3 persen responden dari berbagai latar belakang pendidikan maupun usia.

Hanya 10,7 persen responden mengaku ragu-ragu, dan 5,5 persen menyatakan tidak yakin, serta 1,5 persen sisanya tidak tahu.

Tingginya keyakinan publik tersebut didukung pula oleh motivasi dalam penerapannya, dimana 89,1 persen responden mengaku protokol kesehatan diterapkan untuk melindungi diri sendiri ataupun orang lain.

Sementara 6,1 persen karena menaati peraturan yang berlaku, dan 2,3 persen karena alasan takut tertular, serta 2,5 persen sisanya karena berbagai alasan.

Demikian halnya dengan intensitas penerapannya, dimana dalam kurun waktu satu bulan terakhir, 56,6 persen responden selalu menerapkan protokol kesehatan saat berada di luar rumah.

Kemudian disusul 34 persen responden mengaku sering menerapkan, dan 9 persen responden yang hanya kadang-kadang atau sesekali saja menerapkannya.

Meski kesadaran publik terbilang tinggi dalam menerapkan protokol kesehatan, namun mereka mengaku ada kesulitan pada penerapannya saat berada di luar rumah.

Sekitar 60,6 persen responden mengaku cukup sulit untuk menjaga jarak aman fisik minimal satu meter dengan orang lain.

Hal ini tentunya harus yang menjadi perhatian pemerintah, terlebih setelah kebijakan pelonggaran pembatasan sosial diambil dengan membuka sejumlah destinasi wisata, mengizinkan digelarnya hajatan, dan panggung hiburan, serta mengizinkan dimulainya kembali pembelajaran tatap muka di sekolah.

Sementara itu, 6,3 persen responden memilih penggunaan masker sebagai instrumen protokol kesehatan yang sulit untuk diterapkan.

Kesulitan penggunaan masker tersebut salah satunya diakui Ricky (21), responden laki-laki yang berprofesi sebagai pedagang di salah satu toko di sekitar kawasan Ruko Slawi.

Ia mengaku, penggunaan masker untuk jangka waktu tertentu membuatnya sulit bernafas.

“Disini, kalau siang udaranya panas dan pengap, jadi masker kain ini lebih sering saya lepas. Kalau dipakai jadi susah nafasnya, apalagi harus bergerak kesana kemari,” ujar Ricky, dalam rilis yang diterima Tribunpantura.com, Selasa (25/8/2020).

Alasan serupa juga disampaikan Puspitasari (25), reponden perempuan yang bekerja sebagai admin di perusahaan swasta di wilayah Margasari.

Ia mengungkapkan, masker kain hanya digunakannya sewaktu melakukan perjalanan dari rumah ke kantor.

Terlebih, di pintu masuk kantor selalu ada petugas keamanan yang berjaga menskrining karyawan dan mewajibkan penggunaan masker.

Saat masuk ke ruangan kantornya yang berpendingin udara, masker pun Ia lepas.

"Ketika mengenakan masker di dalam ruangan selain saya tidak bebas bernafas, alasan lain karena teman-teman saya di ruangan juga tidak memakai masker saat bekerja," ungkapnya.

Realitas tersebut juga dijumpai di sejumlah ruang publik dimana tidak sedikit warga yang belum menerapkan protokol kesehatan.

Hal tersebut seperti tampak pada sejumlah giat penegakan disiplin oleh Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Tegal yang menjaring cukup banyak pelanggar protokol kesehatan.

Sementara itu, kesulitan lain seperti mencuci tangan dengan sabun saat berada di luar rumah disampaikan oleh 5,7 persen responden.

Beruntungnya, 27 persen responden mengaku tidak ada yang sulit dalam menerapkan protokol kesehatan.

Meski 34 persen responden mengatakan selalu menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 ini, tapi ada 32,3 persen responden yang mengaku pernah lupa menerapkannya.

Ditengarai, ini terjadi karena mereka belum terbiasa, terutama dalam memakai masker.

Fakta lainnya, 13 persen responden mengaku sengaja tidak menerapkan protokol kesehatan saat ke luar rumah karena merasa sudah yakin aman.

Sementara 4,6 persen responden mengaku protokol kesehatan membuat ribet atau menyusahkan, dan 4,4 persen responden sudah merasakan jenuh atau bosan, serta 4,2 persen responden tidak menerapkannya karena lingkungan yang tidak mendukung.

Sekitar 3,4 persen responden mengaku sengaja tidak menerapkan protokol kesehatan karena tidak ada pengawasan dari petugas.

Hanya ada 1 persen saja dari 477 responden yang mengaku sudah tidak percaya lagi adanya Covid-19, sehingga tidak perlu lagi menerapkan protokol kesehatan.

Jadwal Baru Samsat Keliling Kota Tegal, Senin-Jumat Buka di 8 Lokasi, Jangan Lupa Catat Jamnya

Jadwal Samsat Online Keliling Kajen Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2020

Prakiraan Cuaca di Tegal Raya Selasa 25 Agustus 2020, Hujan Sedang dan Ringan Sore Hingga Malam

Disporapar Beri Pelatihan Puluhan Pengelola Homestay di Kota Tegal

Ketidakpatuhan sekitar 30,6 persen responden dalam menerapkan protokol kesehatan tersebut, kiranya perlu ditangkap sebagai sebuah sinyal bahwa pemerintah masih punya pekerjaan rumah untuk lebih mendisiplinkan warganya, dan memberikan edukasi melalui komunikasi yang efektif dan mudah diterima.

Bagaimanapun respons publik, upaya preventif seperti penyampaian informasi dan pengetahuan yang benar tentang Covid-19 harus terus dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat melalui jejaring Satgas penanganan Covid di semua tingkatan, termasuk Satgas Jogo Tonggo.

Hal ini diperlukan untuk mencegah kepanikan yang tidak perlu di masyarakat, seperti respons berlebihan dari sebagian warga saat pemerintah menyampaikan informasi perkembangan terbaru kasus konfirmasi, atau saat mengetahui ada saudara maupun tetangganya yang terinfeksi Covid-19.

Keberhasilan mencegah penularan penyakit Covid-19, terletak pada sinergitas antara pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama memutus rantai penularannya.

Semangat masyarakat melakukan tindakan preventif inilah modal sosial yang harus terus dibangun dan dijaga, disertai gerak cepat pemerintah dalam memberikan informasi secara lengkap terkait wabah Covid-19 ini. (dta)

Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved