Kamis, 23 April 2026

Berita Semarang

Warga Delta Asri Mijen Masih Was-was Banjir Bandang Susulan

Ratusan warga di Perumahan Delta Asri 2 RW 5,Kelurahan Cangkiran, Kecamatan Mijen, Kota Semarang membenahi rumah seelah banjir bandang.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Rival Almanaf
Istimewa
Warga Perumahan Delta Asri 2 RW 5,Kelurahan Cangkiran, Kecamatan Mijen, Kota Semarang membersihkan rumah mereka kembali selepas direndam banjir, Jumat (20/11/2020). 

TRIBUN-PANTURA.COM, SEMARANG - Ratusan warga di Perumahan Delta Asri 2 RW 5,Kelurahan Cangkiran, Kecamatan Mijen, Kota Semarang membenahi rumah mereka kembali selepas direndam banjir. 

Mereka membersihkan rumah dari genangan lumpur dan memilah berbagai perabotan rumah yang masih dapat diselamatkan. 

Berbeda dengan warga lainnya yang hanya rumahnya kotor, Muh cholis (38) warga RT 3 RW 5 harus membuat tiang penyangga di belakang rumahnya.

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Tegal Tembus Angka 1.000, Masih Didominasi Klaster Keluarga.

Baca juga: Tim Verifikasi Jateng Nilai TP PKK Kalinyamatwetan Kota Tegal

Baca juga: Petani Desa Plumbon Kabupaten Batang, Temukan Uang Puluhan Juta Yang Tersebar di Aliran Irigasi

Baca juga: Bupati Mundjirin Sebut Kasus Corona di Kabupaten Semarang Tembus 1.900 Orang

Pasalnya dinding belakang rumahnya jebol sehingga jika tak diberi tiang penyangga ditakutkan atap rumah ambruk. 

 

"Hanya rumah saya yang jebol sehingga  dipasang tiga tiang penyangga. Semoga kuat dan atap tak ambruk," katanya kepada Tribun-Pantura.com, Jumat (20/11/2020).

Dia menjelaskan, akibat drainase yang buruk sawah di belakang rumahnya bak danau ketika turun hujan. 

Apalagi kemarin hujan turun sangat lebat selama berjam-jam.

Air otomatis akan mengalir ke arah bawah yang terdapat pemukiman warga. 

"Luapan air dari sawah itu setinggi hampir dua meter, menerjang rumah pada pukul 18.30."

"Dinding rumah tak kuat menahan air sehingga jebol sepanjang 5,5 meter tinggi 3,2 meter," ujarnya.

Dia menyebut, seluruh peralatan elektronik di rumahnya rusak.

Total kerugian yang dialami sekira Rp 30 juta. 

"Sudah 10 tahun kami tinggal di sini baru kali ini banjir."

"Kami masih was-was dan banyak berdoa saja semoga banjir susulan tak datang," terangnya sambil berharap talud di belakang rumahnya agar lebih ditinggikan lagi agar kejadian serupa tidak terulang. 

Sementara itu, warga RT 1 RW 5 Cangkiran, Joko Eko Suprapto (66) menjelaskan, banjir paling parah terjadi di wilayah RT-nya.

Terhitung paling parah lantaran wilayahnya merupakan titik temu air yang berasal dari sungai Cangkiran dan sungai Kalibabon yang terletak di sebelah barat rumahnya. 

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved