Minggu, 12 April 2026

Berita Pekalongan

Terjadi Penurunan Tanah Di Kota Pekalongan 6 Centimeter per Tahun

Sebagaimana kota-kota di pesisir pantai utara Pulau Jawa, Kota Pekalongan di Jawa Tengah, juga terancam tenggelam.

Editor: Rival Almanaf
Istimewa
Terjadi Penurunan Tanah Di Kota Pekalongan 6 Centimeter per tahun 

TRIBUN-PANTURA.COM, PEKALONGAN
Sebagaimana kota-kota di pesisir pantai utara Pulau Jawa, Kota Pekalongan di Jawa Tengah, juga terancam tenggelam karena adanya penurunan tanah.

Banjir rob menjadi langganan, diperparah adanya banjir akibat luapan sungai.

Hampir 70 persen lebih wilayah Kota Pekalongan setiap tahunnya terdampak banjir rob. Salah satu penyebab dikarenakan adanya penurunan tanah atau land subsidence.

Penurunan muka tanah yang terjadi di Kota Pekalongan saat ini mulai mengkhawatirkan, karena menunjukkan penurunan yang semakin dalam.

Kepala Bappeda Kota Pekalongan, Anita Heru Kusumorini mengatakan, berdasarkan alat patok pengukuran yang dipasang Badan Geologi Nasional di Stadion Hoegeng, Kecamatan Barat sejak Bulan Maret 2020 lalu menunjukkan hingga Januari 2021 sudah terjadi penurunan tanah setinggi 4,9 sentimeter.

"Sehingga bisa disimpulkan dalam waktu satu tahun terakhir, di Kota Pekalongan khususnya di kawasan sekitar Stadion Hoegeng atau di wilayah Kecamatan Barat tersebut telah terjadi penurunan tanah. Bahkan, sesuai penelitian Badan Geologi Nasional penurunan terjadi 6 centimeter."

"Padahal dari data sebelumnya, dalam sejak Maret sampai Agustus 2020, alat patok di Stadion Hoegeng menunjukkan adanya penurunan tanah setinggi 2,7 sentimeter," kata Kepala Bappeda Kota Pekalongan Anita saat ditemui Tribunjateng.com di kantornya, Jumat (22/1/2021) sore.

Anita menjelaskan, bila dihubungkan dengan musibah banjir dan rob yang selama ini semakin masuk ke beberapa daerah di Kota Pekalongan, maka disinyalir hal itu disebabkan adanya penurunan tanah di Kota Batik.

"Tanah di Pekalongan itu adalah tanah endapan yang usianya tergolong muda. Tanah yang muda, secara alami akan terus mengalami penurunan."

"Penurunan yang diperhitungkan itu mungkin turun 1 sampai 2 centimeter per tahun. Namun apabila penurunan yang terjadi lebih dari 2 centimeter, seperti yang disampaikan Badan Geologi kemungkinan ada faktor lain yang mempengaruhi land subsidence semakin dalam," jelasnya.

Menurutnya, faktor yang mempengaruhi itu di antaranya seperti pengambilan air tanah.

"Kebanyakan yang terjadi di daerah-daerah lain itu karena pengambilan air tanah. Pengambilan air tanah ini menyebabkan lubang yang ada di bawah terjadi pemampatan, lubangnya tertutup tanahnya turun karena rongganya kosong," ujarnya.

Selain pengambilan air tanah, hal yang mempengaruhi kejadian tersebut yaitu aktivitas-aktivitas ekonomi yang membebani tanah tersebut.

"Saat ini kita belum bisa menjustifikasi, ini lho penyebab terjadinya penurunan tanah, karena penelitian ini masih berlanjut," imbuhnya.

Saat disinggung mengenai, berapa presentase penggalian sumur bor dan aktivitas-aktivitas ekonomi yang mempengaruhi penurunan tanah di Kota Pekalongan, Anita menambahkan pihaknya belum bisa menyampaikan hal itu. Karena, tentunya diperlukan pendeteksian yang lebih akurat.

"Kita belum bisa sampaikan seperti itu, karena perlu penelitian lebih dalam lagi, perlu juga dipasang patok-patok pendeteksi penurunan tanah. Di Kota Pekalongan hanya ada dua patok yang dipasang, berlokasi di wilayah Kecamatan Barat dan Selatan."

"Rencananya, dalam waktu dekat di wilayah Kecamatan Utara akan di pasang patok yang serupa," tambahnya. (Dro)

Sumber: Tribun Pantura
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved