Selasa, 2 Juni 2026

Berita Jateng

Cuaca Ekstrem di Jateng Masih Akan Terjadi Beberapa Hari ke Depan, BMKG Sebut 4 Daerah Siaga

Cuaca ekstrem diprediksi masih akan terus terjadi beberapa hari ke depan di daerah-daerah di Jawa Tengah.

Tayang:
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muh radlis
IST
BMKG 

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Cuaca ekstrem diprediksi masih akan terus terjadi beberapa hari ke depan di daerah-daerah di Jawa Tengah.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada empat kabupaten dan kota di Jateng yang tercatat berstatus siaga terkait cuaca ekstrem.

"Ada daerah yang sudah diberikan warning. Itu berdasarkan Signature atau prakiraan cuaca berbasis dampak.

Kalau di Jateng dampaknya kan ada tingkatannya yakni siaga dan waspada.

Yang siaga ini yang harus diperhatikan," kata pakar cuaca atau prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG Semarang, Zauyik Nana Ruslana, Selasa (9/2/2021).

Ia membeberkan daerah yang berstatus siaga banjir karena dampak cuaca ekstrem di Jateng ada empat, yakni Pemalang, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Batang.

Sedangkan daerah berstatus waspada meliputi Kota Semarang, Tegal, Purbalingga, Banjarnegara, Demak, Wonosobo, Kendal, Temanggung, Kudus, Pati, Jepara, Klaten Boyolali, Kota Magelang, Purworejo, dan Grobogan.

"Ini kalau dilihat kondisi berlangsung dari 8 sampai 9 Februari, bisa juga hingga tiga hari. Dampaknya, otomatis banjir dan tanah longsor," terangnya.

Zauyik menuturkan cuaca ekstrem ini diakibatkan saat ini daerah di Pulau Jawa termasuk Jateng sebagai lokasi pertemuan atau kumpulan angin.

Lokasi ini juga disebut Intertropical Convergence Zone (ITCZ) atau zona pembentukan awan lintas tropik yakni zona pertemuan angin dari utara dan selatan ke bagian selatan garis ekuator atau khatulistiwa.

Adanya ITCZ ini yang menyebabkan Jawa banyak tertutup awan yang berarti curah hujan meningkat.

"Otomatis di Jateng terimbas juga peningkatan curah hujan karena ada pertumbuhan awan cukup signifikan.

Ini sifatnya continue (berkelanjutan) jadi sebentar hujan lalu reda, hujan lagi, reda lagi begitu terus bisa dari pagi sampai malam hari," katanya.

Ia menambahkan ITCZ awalnya berada di belahan bumi utara, namun terus bergeser hingga belahan bumi selatan atau sisi selatan garis ekuator pada Januari dan Februari.

Secara bertahap, posisi zona pembentukan awan lintas tropik ini bergeser, nantinya intensitas hujan akan berkurang dan beralih musim kemarau.(mam)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved