Berita Jateng
Organda di Banyumas Meradang karena Mudik Dilarang, Ini Kata Bupati
Moment menyantap opor ayam dan ketupat lebaran bersama keluarga tercinta sepertinya sulit terwujud, bagi mereka yang merantau di luar kota.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: muh radlis
Menurutnya hal ini dirasakan oleh semua pengusaha, bukan hanya di Banyumas saja tapi di seluruh daerah lain.
Bahkan ia mengungkapkan harga taxi yang awalnya bisa laku terjual Rp 300 juta, sekarang Rp 30 juta tidak ada yang mau beli.
Dengan adanya keputusan pelarangan mudik, ia dan anggota lain hanya bisa menunggu kebijakan pemerintah saja.
Pengusaha jasa angkutan hanya diam dan menunggu aturan yang meringankan dan ikuti kebijakan saja.
Namun, dia menerangkan bahwa tidak menutup mata banyak pengusaha yang mati dan beralih profesi.
Dia mengaku harapan akan kembali normal memang sangat sulit dan semoga ada keringan kebijakan agar jasa angkutan dapat tetap hidup.
Menanggapi pelarangan mudik, Bupati Banyumas Achmad Husein mengatakan, sampai saat ini belum terima surat resminya soal kebijakan tersebut.
Jika sudah ada surat edaran resmi ia katakan, siap jalankan aturan itu.
"Minggu depan di rapatkan," terangnya.
Sementara itu, Sekda Kabupaten Banyumas Wahyu Budi Saptono mengatakan jika surat resmi belum ada.
Setelah itu kebijakan yang akan dikeluarkan, akan dirapatkan dengan jajaran Forkompinda terlebih dahulu.
"Kita tunggu surat resmi dari pusat.
Jika sudah ada, kita terjemahkan disini," katanya.
Apabila sudah ada surat resmi soal kebijakan tersebut ia katakan itu bukanlah hal baru, karena tahun lalu juga untuk mudik agar tidak dilakukan.
"Kita menyesuaikan seperti tahun lalu.
Dimungkinkan posko perbatasan diaktifkan kembali," ungkapnya. (Tribunbanyumas/jti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pantura/foto/bank/originals/jasa-angkutan-kota-di-perkotaan-purwokerto-yang-terparkir-di-sekitar-keb.jpg)