Breaking News:

Berita Jateng

Guru Jadi Pintu Masuk Paham Radikalisme dan Intoleransi ke Sekolah

Anak-anak di sekolah termasuk di tingkat dasar dan menengah bahkan taman kanak-kanak berisiko terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme.

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: muh radlis
IST
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti (tengah) dan sejumlah narasumber saat diskusi terkait pendidikan Pancasila di sekolah dasar dan menengah 

Penulis: Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Anak-anak di sekolah termasuk di tingkat dasar dan menengah bahkan taman kanak-kanak berisiko terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme.

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang juga tokoh Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Muhammad Adnan saat diskusi di Semarang menyampaikan, pemahaman radikalisme yang merasa paling benar sendiri itu menyusup ke sekolah melalui guru.

"Saya mengetahui sendiri. Guru yang mengajar suka menyisipkan pesan-pesan ajaran yang menyinggung paham-paham radikalisme. 10 menit mengajarkan Pancasila dan 140 menit sisanya membunuh Pancasila," kata Adnan, Jumat (30/4/2021).

Menurutnya, guru merupakan pintu masuk paham radikalisme di sekolah. Kuncinya ada pada para guru.

Maraknya radikalisme harus dilawan dengan penguatan nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan di sekolah.

Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah untuk bertindak. Para guru bisa diberikan penataran terkait keindonesiaan dan keislaman yang sebetulnya keduanya terintegrasi.

Selain itu, harus dilakukan pelacakan atau tracking guru-guru yang sudah terpapar paham radikalisme. Kemudian, proses screening dalam perekrutan seorang guru juga penting dilakukan.

"Pancasila itu musuh bagi yang tidak bertuhan dan merasa paling bertuhan. Karena orang yang merasa paling bertuhan tidak menganggap Pancasila itu ada," tandas pria yang pernah duduk sebagai Ketua Pimpinan Wilayah NU Jateng ini.

Komisi X DPR RI yang juga membidangi pendidikan saat ini sedang menghimpun big data guru terkait. Big data itu nantinya digunakan untuk melacak atau tracking latar belakang guru serta melihat kegiatannya di media sosial.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved