Breaking News:

Berita Slawi

Ini Kunci Sukses Sayudi Pemilik Warteg Kharisma Bahari yang Kini Punya Ratusan Cabang

Warung Tegal (warteg) siapa yang tidak mengenal warung makan yang terkenal menyediakan banyak pilihan menu masakan?

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
IST
Sayudi atau yang memiliki nama panggilan Yudi (48), saat berada di depan salah satu cabang Warteg Kharisma Bahari (WKB) miliknya yang berlokasi di jalan Haji Bantong Raya Cilandak Jakarta Selatan. 

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Warung Tegal (warteg) siapa yang tidak mengenal warung makan yang terkenal menyediakan banyak pilihan menu masakan?

Keberadaanya hampir bisa ditemui di tiap daerah tak terkecuali Kota Besar seperti Jakarta. 

Sesuai namanya, warteg identik dengan "wong Tegal" karena mayoritas pemiliknya adalah warga Tegal yang merantau kemudian membuka usaha warteg

Dari sekian banyak pengusaha warteg, ada satu yang sangat menginspirasi karena dari hasil kegigihannya selama puluhan tahun menjalani usaha, cabang warteg miliknya bukan lagi puluhan tapi mencapai kurang lebih 700 cabang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.  

Mari berkenalan dengan Sayudi (48), pemilik sekaligus pendiri Warteg Kharisma Bahari yang sudah merintis usaha sejak puluhan tahun lalu saat usianya masih cukup muda dan memutuskan merantau ke Jakarta. 

Saat dihubungi Tribunjateng.com via sambungan telepon karena yang bersangkutan sedang menetap di Cilandak Jakarta Selatan, Yudi menceritakan kisahnya sejak awal merintis usaha warteg sampai bisa mencapai titik sekarang ini. 

Yudi merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara, kedua orangtuanya sang ayah bernama H. Sobari dan ibu Hj. Soliha sudah meninggal dunia. 

Semasa hidup kedua orangtua Yudi juga merantau di Jakarta namun tidak membuka warteg melainkan usaha yang lain yaitu membuka warung kopi. 

Namun saat Yudi lahir kedua orangtua nya sudah kembali ke kampung halaman di Desa Sidakaton, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal. 

Singkat cerita, Yudi kecil tidak mau melanjutkan sekolah dan hanya tamat SD karena ia berpikir jika hidup di Jakarta jauh lebih enak karena uang jajan lebih banyak, sedangkan dia sendiri yang anak seorang petani di Desa uang saku paling hanya 5 perak saat itu. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved