Senin, 11 Mei 2026

Berita Slawi

Ini Kunci Sukses Sayudi Pemilik Warteg Kharisma Bahari yang Kini Punya Ratusan Cabang

Warung Tegal (warteg) siapa yang tidak mengenal warung makan yang terkenal menyediakan banyak pilihan menu masakan?

Tayang:
Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muh radlis
IST
Sayudi atau yang memiliki nama panggilan Yudi (48), saat berada di depan salah satu cabang Warteg Kharisma Bahari (WKB) miliknya yang berlokasi di jalan Haji Bantong Raya Cilandak Jakarta Selatan. 

TRIBUNPANTURA.COM, SLAWI - Warung Tegal (warteg) siapa yang tidak mengenal warung makan yang terkenal menyediakan banyak pilihan menu masakan?

Keberadaanya hampir bisa ditemui di tiap daerah tak terkecuali Kota Besar seperti Jakarta. 

Sesuai namanya, warteg identik dengan "wong Tegal" karena mayoritas pemiliknya adalah warga Tegal yang merantau kemudian membuka usaha warteg

Dari sekian banyak pengusaha warteg, ada satu yang sangat menginspirasi karena dari hasil kegigihannya selama puluhan tahun menjalani usaha, cabang warteg miliknya bukan lagi puluhan tapi mencapai kurang lebih 700 cabang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.  

Mari berkenalan dengan Sayudi (48), pemilik sekaligus pendiri Warteg Kharisma Bahari yang sudah merintis usaha sejak puluhan tahun lalu saat usianya masih cukup muda dan memutuskan merantau ke Jakarta. 

Saat dihubungi Tribunjateng.com via sambungan telepon karena yang bersangkutan sedang menetap di Cilandak Jakarta Selatan, Yudi menceritakan kisahnya sejak awal merintis usaha warteg sampai bisa mencapai titik sekarang ini. 

Yudi merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara, kedua orangtuanya sang ayah bernama H. Sobari dan ibu Hj. Soliha sudah meninggal dunia. 

Semasa hidup kedua orangtua Yudi juga merantau di Jakarta namun tidak membuka warteg melainkan usaha yang lain yaitu membuka warung kopi. 

Namun saat Yudi lahir kedua orangtua nya sudah kembali ke kampung halaman di Desa Sidakaton, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal. 

Singkat cerita, Yudi kecil tidak mau melanjutkan sekolah dan hanya tamat SD karena ia berpikir jika hidup di Jakarta jauh lebih enak karena uang jajan lebih banyak, sedangkan dia sendiri yang anak seorang petani di Desa uang saku paling hanya 5 perak saat itu. 

Ketika jajan uang yang dipunya hanya cukup untuk jajan semisal es ya es saja, atau beli gorengan ya hanya itu tanpa membeli minum. Dari situlah Yudi kecil beranggapan bahwa hidup di Jakarta itu enak dan terkesan memiliki banyak uang. 

Akhirnya ia menolak untuk melanjutkan sekolah dan lebih memilih ingin merantau ke Jakarta mencari uang. 

Di usianya yang masih cukup muda, Yudi mengerjakan apa saja termasuk menjadi penjual asongan sebelum akhirnya ia memutuskan membuka warteg pinggir jalan di daerah Cilandak. 

"Saya lulus SD usia 14 tahun, kemudian  dua tahun membantu orangtua bertani di rumah kemudian memutuskan merantau ke Jakarta. Berbekal tekad dan niat saya awal tiba di Jakarta pernah jadi penjual asongan, kemudian singkat cerita tahun 1995 saya menikah kemudian membuka warteg di pinggir jalan karena belum ada modal. Akhirnya saya punya modal Rp 500 ribu, kemudian pinjam di saudara Rp 3 juta, di bank Rp 3 juta, terkumpul Rp 6,5 juta saya pakai untuk membeli warung itupun join dengan teman dan buka warteg disana. Itulah cikal bakal usaha warteg Kharisma Bahari milik saya," ungkap Yudi, pada Tribunjateng.com, Senin (9/8/2021). 

Awal membuka warteg pada tahun 2000, Yudi mengaku tidak langsung memberikan nama Kharisma Bahari, nama tersebut baru dipakai setelah ia membuka cabang yang ketiga sekitar tahun 2009 kemudian semakin berkembang di tahun 2010. 

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved