Berita Tegal
Sungai Ketiwon, Saksi Bisu Pembantaian PKI di Tegal
Sungai Ketiwon yang menjadi pembatas antara Kota Tegal dan Kabupaten Tegal, memiliki cerita kelam pasca peristiwa Gerakan 30 September (G30S)
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: muh radlis
"Dulu kan itu tanah rawa-rawa (red, Martoloyo).
Warga di dekat situ, dulunya setiap malam mendengar suara truk meraung-raung ke arah utara," ujarnya.
Basis Pergerakan Kiri
Wijan menjelaskan, kader dan simpatisan PKI cukup banyak di Tegal.
Berdasarkan catatan residen Pekalongan, embrio komunis di Tegal mencapai 5.300 orang.
Ia mengatakan, pemikiran kiri sudah berkembang sejak 1920-an.
Pada saat itu pernah terjadi pemogokan yang melibatkan para pegawai kereta api.
Kemudian pemikiran kiri itu juga terjadi karena perkembangan industrialisasi dan arus modernisasi.
Seperti kemunculan perkebunan dari Pangkah hingga Balapulang, Tegal.
"Dari sini muncul kelompok dalam dunia industri, pekerja atau buruh.
Nah, buruh-buruh inilah yang kemudian menjadi motor penggerak radikalisme pada waktu itu," jelasnya.
Wijan mengatakan, pada 1920 juga sudah muncul pergerakan kiri dengan nama Partai Komunis Hindia Belanda.
Anggota-anggotanya dari serikat buruh, seperti serikat rakyat, serikat buruh tebu, serikat pekerja laut, serikat buruh cetak, serikat buruh elektrik, ataupun serikat buruh tekstil.
"Para buruh itu sangat berpengaruh.
Dan mereka menjadi kekuatan gerakan kiri di wilayah Tegal," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pantura/foto/bank/originals/sungai-ketiwon-merupakan-sungai-pembatas-daerah-antara-kota-tega.jpg)