Selasa, 9 Juni 2026

Berita Jateng

12 Mahasiswa Luar Jawa Belajar Falsafah Gusjigang di Universitas Muria Kudus

Sebanyak 12 mahasiswa dari sembilan perguruan tinggi dari luar Jawa mempelajari Gusjigang di Universitas Muria Kudus (UMK).

Tayang:
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muh radlis
IST
12 mahasiswa dari luar Jawa saat mengunjungi museum Gusjigang di Kudus 

TRIBUNPANTURA.COM, KUDUS - Sebanyak 12 mahasiswa dari sembilan perguruan tinggi dari luar Jawa mempelajari Gusjigang di Universitas Muria Kudus (UMK).

Mereka merupakan peserta pertukaran mahasiswa dalam program Modul Nusantara yang diprakarsai oleh Kemendikbudristek.


Tujuan program Modul Nusantara memang untuk memberikan pemahaman tentang kebhinekaan, wawasan kebangsaan dan cinta tanah air.


"Khusus mahasiswa yang ikut Modul Nusantara di UMK, kami belajar tentang Gusjigang," kata dosen pembimbing Modul Nusantara Syafiul Muzid, M.Cs.


Untuk kegiatan dalam Modul Nusantara ada empat, yakni kelas kebinekaan, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial.

Untuk kegiatan Modul Nusantara ini dilakukan secara hybrid yakni daring dan luring.


Sebanyak 12 mahasiswa tersebut berasal dari Universitas Nusa Cendana, Kupang, NTT, Universitas Mulawarman, Samarinda, Universitas Udayana, Bali, Institut Teknologi Kalimantan, Balikpapan dan Universitas Muhamamdiyah Palangkaraya.


Selain itu ada juga dari Universitas Katolik Widya Mandiri, Kupang, NTT,  STKIP PGRI Banjarmasin, Universitas Cokroaminoto Palopo, Sulawesi Selatan dan Universitas Pendidikan Ganesha, Bali.


"Dalam program ini, ada sistem alih kredit sebanyak 20 SKS," terangnya.


Dalam program ini, pihaknya mengenalkan beberapa tempat yang menunjukkan kebinekaan dan toleransi, seperti Masjid dan Menara Kudus dan klenteng yang berdekatan.

Namun sampai saat ini masih berdiri karena toleransi yang ada.


Selain itu juga diberikan pemahaman tentang ajaran Gusjigang dari Sunan Kudus. 

Baik pembahasan dilakukan melalui sosok inspirasi, tempat, budaya hingga kuliner khas Kudus.

Untuk kuliner seperti sate kerbau dan soto kerbau, dimana tidak menggunakan daging sapi karena menghormati pemeluk agama Hindu yang ada di Kudus saat itu.

”Kita kupas gus (bagus budi pekerti), ji atau mengaji atau belajar dan gang atau dagang kita kupas semua,” imbuhnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved