Selasa, 9 Juni 2026

Berita Slawi

Sungai Rambut Banjaragung Meluap, Kades Berharap Jembatan Gantung Ditinggikan 1 Meter

Sungai Rambut Banjaragung Kabupaten Tegal Meluap, Kades Berharap Jembatan Gantung Ditinggikan 1 Meter

Tayang:
Tribun-Pantura.com/Desta Leila Kartika
Warga melintasi jembatan gantung di Desa Banjaragung, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, Rabu (29/12/2021). 

TRIBUN-PANTURA.COM, SLAWI - Intensitas hujan yang cukup tinggi pada Selasa (28/12/2021) kemarin, mengakibatkan debit air Sungai Rambut di Desa Banjaragung, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal meluap.

Limpasan air Sungai Rambut membuat akses di jalan desa tersebut tergenang.

Meskipun air tidak sampai masuk ke rumah dan permukiman, warga mengaku khwatir bila hujan deras kembali mengguyur wilayah tersebut.

Pantauan Tribun-Pantura.com, Rabu (29/12/2021), permukaan air hampir menyentuh jembatan gantung yang ada di desa tersebut.

Namun, saat hari beranjak siang, air berangsur surut sehingga tidak sampai menggenagi atau sampai menutup jembatan gantung yang menjadi akses utama bagi warga sekitar.

Air sungai masih keruh bewarna kecoklatan, sampah yang biasanya tersangkut kali ini tidak ada sama sekali alias bersih.

Ditemui di ruang kerjanya, Kepala Desa Banjaragung Paidar Baktiarso mengatakan, Desa Banjaragung merupakan salah satu daerah yang menjadi langganan banjir.

Setidaknya dalam setahun minimal bisa terjadi dua kali bencana banjir yaitu awal dan akhir tahun.

Tapi untuk di tahun 2021 ini, November sudah terjadi banjir yang kondisinya lebih parah jika dibandingkan banjir Januari lalu.

"Wilayah kami menjadi langganan banjir karena kondisi Sungai Rambut yang semakin sempit."

"Saya cerita sedikit, pada 30 tahun lalu kondisi sungai rambut masih lebar antara 10-30 meter, sedangkan sekarang hanya tersisa 1-2 meter saja sehingga menyempit," ungkap Paidar, pada Tribun-Pantura.com, Rabu (29/12/2021).

Imbas dari banjir pada tanggal 13 November lalu, lanjut Paidar, selain jembatan gantung tidak bisa dilewati karena tertutup aliran sungai, para petani atau warga yang memiliki tanaman padi menjadi korban.

Hal ini karena sekitar 10 hektar tanaman padi yang seharusnya panen jadi gagal panen, yang sudah panen harus menerima karena gagal (hasilnya tidak bagus), dan yang baru akan keluar juga hasilnya tidak maksimal.

Meskipun banjir memang termasuk dalam bencana alam, namun Paidar berharap Sungai Rambut bisa dinormalisasi, serta lebarnya minimal 5-10 meter, sehingga mengurangi risiko terjadinya banjir. 

"Harapan saya sebagai warga dan Kepala Desa Banjaragung pemerintah lebih memperhatikan."

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved