Berita Demak
Tips Beli Hewan Kurban di Tengah Wabah PMK
Fatwa MUI terkait hewan yang terinfeksi virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk dijadikan hewan qurban menyebutkan ada beberapa kriteria.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: m zaenal arifin
TRIBUNPANTURA.COM, DEMAK - Fatwa MUI terkait hewan yang terinfeksi virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk dijadikan hewan kurban menyebutkan ada beberapa kriteria.
Menanggapi itu, Romli Yusuf, Peternak di Mranggen Demak, memberikan tips untuk memilih hewan kurban yang baik.
Hewan kurban baik sapi, kambing, atau domba pada tahun ini sedikit menimbulkan kecemasan bagi masyarakat.
Lantaran masyarakat ditakutkan akan penyakit PMK yang menjangkiti hewan ternak dan nantinya mempengaruhi daging hewan kurban.
"Kalau memilih hewan kurban sebaiknya melihat sifatnya hewan terlebih dahulu. Kalau hewan terlihat banyak diamnya maka itu yang patut diwaspadai," urainya, Senin (13/6/2022).
Selain itu, nafsu makan dari hewan ternak juga perlu diperhatikan.
"Kalau hewannya giras (banyak gerak), terus makannya lahap itu yang bagus. Berarti hewan itu sehat," ucapnya.
Selain itu, ia juga menerangkan bahwasannya kualitas daging kurban yang bagus adalah yang sedikit mengandung kadar air.
"Kualitas daging yang bagus itu mengandung kadar air, kalau ditempat saya semua ternak makan hijau-hijauan tidak ada tambahan makanan seperti ampas tahu yang bikin kadar air pada daging jadi banyak," urainya
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Demak, Dyah Purwatiningsih, saat dikonfirmasi tribunjateng.com beberapa waktu lalu menjelaskan beberapa hal tentang fatwa tersebut.
"Hewan yang terserang PMK dengan gejala ringan masih sah dijadikan hewan kurban, akan tetapi jika sudah pincang dan lepuh di mulut serta kaki, sudah tidak sah dijadikan hewan kurban," tuturnya.
Meski tergolong terkena gejala ringan, namun untuk bagian jerohan dan kulit hewan qurban untuk pengolahan perlu pendampingan petugas.
"Hewan kurban yang terinfeksi pengolahan jerohan dan kulit wajib di dampingi petugas, ini yang susah," ucapnya.
Untuk amannya, ia menyarankan sebaiknya agar tidak dikonsumsi.
"Sementara kita belum merekomendasikan. Karena pengawasan dari kita, jumlah SDM kita terbatas, karena ada pemeriksaan post mortem," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pantura/foto/bank/originals/Hewan-ternak-di-peternakan.jpg)