Senin, 13 April 2026

Berita Jateng

Cicak Batu Endemik Gunung Muria saat Ini Berjumlah 60 Ekor

Cnemaspis Muria atau Cicak Batu Hewan Endemik Muria, spesies ini ditemukan di Gunung Muria, Jawa Tengah.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: muh radlis
IST-Green Comunity dan MRC INA
Cnemaspis Muria Cicak Batu Endemik Muria 

TRIBUNPANTURA.COM, KUDUS - Cnemaspis Muria atau Cicak Batu Hewan Endemik Muria, spesies ini ditemukan di Gunung Muria, Jawa Tengah.

Spesies Genus Cnemaspis dunia tersebar di Benua Afrika, kawasan Asia Selatan, dan Asia Tenggara.


Untuk Asia Tenggara ditemukan di Vietnam, Cambodia, Laos, Thailand, Malaysia, Singapore dan Indonesia.


Di tahun 2018, Genus Cnemaspis pertama kali ditemukan di Pulau Jawa. Yaitu di sisi Selatan Gunung Muria, Perbatasan Desa Kajar dan Colo.


Proses identifikasi spesies tersebut awalnya dilakukan oleh tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada beberapa waktu lalu.


LIPI berhasil mengindentifikasi karakteristik dari Cnemaspis Muria seperti bentuk tubuh, perilaku hewan, dan tempat dimana spesies tersebut ditemukan.


Untuk melanjutkan identifikasi tersebut, Green Comunity & Muria Research Center Indonesia (MRC INA) kembali melakukan identifikasi terkait hewan reptil tersebut.


Tujuan identifikasi yang dilakukan oleh Green Comunity dan MRC INA untuk mencari tahu jumlah populasi spesies, distribusi/persebaran hewan, ancaman yang mengganggu spesies hingga kesadaran masyarakat lokal.


Lantaran hewan tersebut tergolong spesies baru, masih terdapat kesulitan diantaranya data yang didapat kurang lengkap hingga potensi ancaman.


Luthfian Nazar, Ketua Tim Peneliti menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan survei di semua sisi Gunung Muria meliputi Kabupaten Jepara, Pati, dan Kudus untuk mengetahui keberadaan spesies.


"Hingga saat ini, dari 12 sungai yang disurvey.

Keberadaan spesies tersebut baru ditemukan di titik penemuan awal yaitu Sungai Ceweng Perbatasan Colo dan Kajar," jelasnya, Selasa (6/12/2022) di Omah Jelita Resto saat sedang memaparkan hasil penelitian.


Kondisi sungai bebatuan, dengan volume air yang tidak banyak namun dipinggiran ada pasir ataupun tempat kering.

Di kanan kiri sungai terdapat tanaman-tanaman kopi.


Masih belum jelas kenapa Sungai Ceweng menjadi tempat favorit reptil yang hidupnya bersifat solitaire itu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved