Kamis, 28 Mei 2026

DPRD Jateng

DPRD Jateng Minta Pemulihan Pendidikan Dipercepat Pascabencana Banjir Bandang Pemalang

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Pemalang menjadi pengingat bahwa sektor pendidikan adalah salah satu korban paling rentan saat bencana terjadi

Tayang:
Editor: Abduh Imanulhaq
IST
Kebersamaan Mohammad Saleh dengan warga korban banjir bandang di kawasan lereng Gunung Slamet, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang (27/1/2026). 

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG – Bencana alam tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga ancaman serius terhadap masa depan anak-anak. 

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Pemalang beberapa waktu lalu menjadi pengingat bahwa sektor pendidikan adalah salah satu korban paling rentan saat bencana terjadi.

Sejumlah sekolah rusak, kegiatan belajar mengajar terhenti, dan ribuan siswa terpaksa menyesuaikan diri dengan kondisi darurat. 

Jika tidak segera ditangani, situasi ini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang, mulai dari ketertinggalan pelajaran hingga trauma psikologis.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menegaskan bahwa dalam situasi darurat sekalipun, negara tetap berkewajiban melindungi hak anak untuk memperoleh pendidikan.

Menurutnya, sekolah bukan sekadar bangunan, tetapi ruang aman bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan membangun harapan.

“Bencana boleh merusak fasilitas, tetapi tidak boleh menghentikan mimpi anak-anak kita. Pendidikan harus tetap berjalan dengan segala upaya yang ada,” ujar Saleh.

Ia menilai, respons pemerintah pascabencana Banjir Bandang Pemalang tidak cukup hanya berfokus pada bantuan logistik dan perbaikan infrastruktur umum. 

Layanan pendidikan harus masuk dalam agenda utama penanganan darurat, sejajar dengan pemulihan ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Penyediaan sekolah darurat, lanjut Saleh, merupakan langkah awal yang mendesak. 

Ruang belajar sementara, perlengkapan sekolah, dan tenaga pendidik yang siap mendampingi siswa perlu segera disiapkan agar proses belajar tidak terputus terlalu lama.

Namun, ia mengingatkan bahwa pemulihan pendidikan tidak bisa dilihat sebatas aktivitas belajar di kelas.

Kondisi mental dan emosional anak-anak pascabencana juga membutuhkan perhatian serius.

“Anak-anak yang terdampak bencana sering kali mengalami ketakutan, kecemasan, bahkan kehilangan rasa aman. Karena itu, dukungan psikososial harus menjadi bagian dari layanan pendidikan darurat,” jelasnya.

Menurut Saleh, sekolah dapat berperan sebagai pusat pemulihan sosial bagi anak. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved