Berita Jateng
Harga Beras Alami Kenaikan, Ini Penjelasan Satgas Pangan Polda Jateng
Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polda Jawa Tengah menelusuri penyebab kenaikan harga beras di pasaran.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: m zaenal arifin
TRIBUN-PANTURA.COM, SEMARANG - Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polda Jawa Tengah menelusuri penyebab kenaikan harga beras di pasaran.
Polisi menilai, ada beberapa faktor pemicu kenaikan harga beras di antaranya musim paceklik.
Menurut laporan yang diterima Satgas Pangan dua wilayah yang alami gagal panen akibat paceklik meliputi Purwodadi (Grobogan) dan Demak.
"Fenomena El-Nino terjadi kekeringan dan ada beberapa daerah yang gagal panen," papar Wakasatgas Pangan Polda Jawa Tengah AKBP Rosyid Hartanto, Selasa (12/9/2023).
Imbas gagal panen di beberapa daerah di Jawa Tengah selama Agustus-September 2023 memicu penurunan hasil gabah kering.
Panen gabah kering sebelumnya di angka 755.274 ton di awal bulan Agustus menjadi 395.415 ton di awal September.
"Ditambah Kebutuhan meningkat sedangkan pasokan berkurang," ucapnya.
Hasil pengecekan harga di tingkat petani, lanjut Rosyid, pihaknya menemukan harga gabah kering giling sudah cukup tinggi yakni mencapai Rp 6.700-Rp 7.700 per kg.
Padahal harga yang di tentukan oleh pemerintah melalui Bulog harga gabah kering yaitu 7.000 per kg.
Sedangkan harga jual beras di Pasar Induk oleh Distributor bertahan di Rp.12.000-Rp 12.500 per kg.
Akibat kondisi itu memicu kenaikan harga beras karena harga gabah kering yang sudah tinggi.
"Kemudian terkait pengusaha yg langsung membeli dari petani karena kemampuan Bulog untuk menyerap Gabah Kering dari petani dibatasi pada HET yg di tentukan yaitu 7.000 per kg," jelasnya.
Kendati begitu, ia menambahkan, stok beras hingga akhir tahun aman karena Bulog dan pasar tradisional mendapatkan pasokan beras Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP).
"Sumber (beras) impor dari Vietnam," tandasnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.