Berita Tegal
Sempat Longsor, Jembatan Kali Erang Desa Cilongok Kabupaten Tegal Mulai Diperbaiki
Jembatan Kali Erang di Desa Cilongok, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal yang mengalami longsor, mulai diperbaiki.
Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: m zaenal arifin
TRIBUN-PANTURA.COM, SLAWI – Jembatan Kali Erang di Desa Cilongok, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal yang mengalami longsor pada bagian pondasi akibat curah hujan tinggi membuat warga yang melintas merasa khawatir.
Pasalnya, jembatan berusia ratusan tahun ini merupakan akses jalur alternatif yang menghubungkan tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Balapulang, Bojong, dan Jatinegara.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Tegal Teguh Dwijanto Rahardjo, mengungkapkan saat ini pihaknya tengah melakukan perbaikan jembatan Kali Erang melalui kegiatan pemeliharaan rutin.
“Jembatan tersebut mengalami longsor pada bagian pondasi pada Minggu 11 Februari 2024 lalu dengan panjang longsor 25 meter, lebar 12 meter dan tinggi 11 meter. Longsor ini terjadi pada sayap-sayap jembatan di sisi barat,” ungkap Teguh, dalam rilis yang diterima, Rabu (27/3/2024).
Awalnya, sambung Teguh, pihaknya sudah merencanakan dan mengusulkan perbaikan jembatan sejak tiga tahun lalu lewat pendanaan APBD Kabupaten Tegal.
Rencana tersebut belum bisa terealisasi karena kendala besaran anggaran yang tidak mencukupi untuk pembangunan jembatan baru sebagai penggantinya.
“Rencananya kami akan mengubah bentang jembatan menjadi 10 meter dan perubahan lokasi jembatan. Karena trasenya bergeser ke sisi selatan menjadikan rencana pembangunan jembatan ini tertunda beberapa kali, terutama saat kebijakan refocusing anggaran diterapkan di tahun 2020 dan 2021 untuk penanganan pandemi Covid-19,” jelasnya.
Pemda juga sudah berupaya menganggarkan kembali pembangunan jembatan ini di tahun 2023 dan 2024 senilai Rp 3 miliar.
Namun dari alokasi anggaran tersebut baru bisa digunakan untuk pembelian rangka jembatan dan biaya konsultan perencana serta pengawas.
Selain itu, ada pula alokasi anggaran senilai Rp 200 juta tahun ini untuk pemeliharaan rutin jembatan.
Anggaran inilah yang kini digunakan untuk memperbaiki tebing di sisi sayap pondasi jembatan yang mengalami longsor, selain perbaikan rangka yang mengalami kerusakan serta perbaikan saluran.
“Idealnya untuk perbaikan jembatan ini secara keseluruhan memerlukan biaya Rp 10 miliar. Kebutuhan tersebut sampai pada pembaharuan pondasi, bronjong, hingga stordam untuk membuat tanah di sekitar sungai menjadi stabil,” terang Teguh.
Meskipun salah satu sayap pondasi jembatan mengalami longsor, lanjut Teguh, warga tetap bisa melaluinya.
Kendati demikian, beban muatan atau kendaraan yang melintas harus lebih ringan dari biasanya.
“Kami sudah pasang rambu-rambu pengaman bagi pengguna jalan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” tutupnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.