Berita Pekalongan
Syawalan Gunungan Megono, Lebaran Rasa Budaya di Jantung Pekalongan
Ribuan warga tumpah ruah memadati lokasi tradisi tahunan syawalan gunungan megono di Obyek Wisata Linggoasri, Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: m zaenal arifin
TRIBUN-PANTURA.COM, PEKALONGAN - Ada yang istimewa di Obyek Wisata Linggoasri, Kajen, Senin (7/4/2025).
Udara sejuk pegunungan terasa berbeda dengan kehangatan ribuan warga yang datang dari berbagai penjuru Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya.
Mereka berkumpul, bukan hanya untuk menikmati panorama alam, tapi juga menyatu dalam satu tradisi penuh makna, Syawalan Gunungan Megono.
Tradisi ini bukan sekadar pesta rakyat.
Ia adalah wujud rasa syukur dan kebersamaan yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Pekalongan.
Setiap tahun, selepas Lebaran, gunungan megono—olahan khas berbahan dasar gori atau nangka muda—dibuat dan diarak bersama hasil bumi dari 19 kecamatan.
Puncaknya, gunungan-gunungan itu menjadi rebutan warga.
Bukan karena lapar atau sekadar seru-seruan, tapi karena dipercaya membawa berkah bagi siapa pun yang berhasil mendapatkannya.
“Megono itu bukan cuma makanan. Di dalamnya ada cerita tentang kesederhanaan, gotong royong, dan kebersamaan,” ujar Wakil Bupati Pekalongan, Sukirman, yang hadir langsung di tengah masyarakat.
Bupati Pekalongan Fadia Arafiq pun tak ingin tradisi ini sekadar menjadi tontonan.
Ia berharap Syawalan Gunungan Megono bisa terus dilestarikan dan menjadi ikon budaya yang membanggakan.
“Ini tradisi kita, identitas kita. Mari kita rawat bersama, agar Pekalongan dikenal bukan hanya karena batiknya, tapi juga karena budayanya yang kaya dan penuh makna,” tuturnya.
Selain kirab budaya, acara ini juga diwarnai dengan lomba kirab gunungan antar kecamatan.
Warna-warni kreativitas ditampilkan dalam bentuk gunungan yang unik dan penuh pesan.
Beberapa di antaranya bahkan menyedot perhatian karena tampil beda, seperti Kecamatan Karanganyar yang menang kategori terunik atau Kecamatan Wonopringgo yang disebut paling heboh.
Di antara gunungan megono dan hasil bumi, ada satu hal yang tak kalah penting: tawa dan kebersamaan.
Tradisi ini membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tapi juga jembatan yang menghubungkan rasa, nilai, dan harapan antar generasi. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.